Selasa, 02 November 2010

AWAS! AGAMA BISA MEMBUSUK!

“Agama adalah alat membunuh manusia yang paling berbahaya!” Sependapat atau tidak, ungkapan ini di satu sisi ada benarnya. Charles Kimball (When Religion Becomes Evil), merinci lima sebab yang membuat agama dapat berubah dari medium pembawa damai menjadi medium pembawa bencana (hal-hal yang jahat). Dalam perjalanan sejarah tradisi agama-agama, kelima hal tersebut adalah: (1) Kepatuhan buta (2) Klaim kebenaran mutlak (3) Membangun/memimpikan ‘zaman ideal’ (4) Tujuan menghalalkan segala cara, dan (5) Menyerukan perang suci.

Semangat kebangkitan agama-agama, seiring dengan mulai surutnya kapitalisme, cenderung ‘kebablasan’. Ada yang menolak sama sekali: penggunaan rasio, akal sehat manusia, budaya lokal, hukum positif yang berlaku dalam sebuah masyarakat/negara dan tafsir ulang sesuai konteks zaman. Yang sudah dari sono-nya didedahkan pada kita begitu dari abad ke abad…ya begitu saja, terima saja, dengar saja. Tak perlu dicerna, tak perlu ditelisik, tak boleh diusik, tak boleh disanggah! Telan saja bulat-bulat! Tekstual tanpa melihat konteks. Anda tinggal terima, selamat dan masuk surga…beres bukan?! Agama-agama mulai ngecap mengklaim yang nomor satu. Merasa paling benar, paling komplet, paling sah punya kunci surga-neraka dan bahkan paling berhak ber-Tuhan serta menentukan hidup-mati orang lain. Agama-agama kadang terlalu pongah dengan ‘bahasa langit’ yang tak kait-mengkait dengan pergulatan iman manusia di bumi dalam gelombang tantangan kehidupan. Sehingga, solusi yang ditawarkan agama dirasakan umat terlalu njelimet, membingungkan, tidak praktis, tak manjur. Bahkan, kalah cepat dengan deretan problematika sekaligus ragam solusi suguhan dunia. Agama cenderung bersikap ‘alergi’ serta mengambil jarak terhadap dunia sekuler. Padahal, saat agama mewujudkan jejaknya dalam rupa rumah-rumah ibadah (Sinagoga, Gereja, Mesjid, Vihara, dsb.), ketika itulah apa-apa yang sekuler merasuki agama. Agama hanya semacam kegiatan ritual dalam keterpesonaan terhadap mujizat/hal supranatural semata. Agama bahkan terkesan nyinyir, menjadi ‘penghalang’ bagi umat manusia untuk beriman pada Sang Khalik semesta alam. Sejarah pun mencatat kekristenan – dalam institusi gereja - pernah terjebak untuk mendaku bahwa “tak ada keselamatan tanpa melalui gereja”.
Jika semua hal yang disebutkan adalah ‘label’ yang cocok disematkan pada agama saat ini, maka itu tandanya agama sedang mengalami proses pembusukan!

Alfred North Whitehead (Religion in The Making), mengingatkan agar kita tak boleh terpana oleh ide bahwa agama itu pasti baik. Sebuah ilusi yang berbahaya. Yang perlu diperhatikan adalah makna transenden dari agama. Agama bisa mengalami degradasi. Ia tidak selalu baik. Ia bisa saja sangat buruk. Lalu apakah agama masih relevan dengan persoalan kontemporer dalam hidup kita di zaman ini? Apakah agama masih layak kita ‘pertahankan’ jika tanda-tanda pembusukan di atas mulai terlihat? Apakah agama masih penting buat kita? Ya, pertanyaan-pertanyaan tersebut memang terkesan menggugat dan provokatif. Tapi pada kenyataannya – diakui atau tidak – dengan semakin canggihnya teknologi dan tingkat aktivitas yang tinggi, kita mulai terasa kehilangan makna spiritualitas dalam hidup. Bahkan mungkin dalam keberagamaan kita. Namun demikian, agama juga masih diyakini sebagai solusi segala permasalahan hidup, meski kadang terkesan naïf atau hanya menyentuh ‘kulit’. Hanya sekedar pelengkap, aksesoris. Keith Ward (Is Religion Dangerous?) menyatakan bahwa meski agama bukan dan tak bisa menjadi sumber kejahatan, tetapi para penganutnya memungkinkan menjadikan agama itu sendiri ‘berwajah’ tak ramah. Pada kenyataannya, konflik antar agama tidaklah murni karena agama semata. Ada kelindan kepentingan politik, ekonomi, budaya, sosial, dan hal lainnya yang merusak dan merasuki agama, sehingga agama menjadi gersang dan garang.

Yesus, Agama dan Paradigma Baru

Anjuran Albert Einstein perlu kita cermati, bahwa “Problem-problem signifikan yang kita hadapi tak dapat kita selesaikan pada level pemikiran yang sama seperti ketika dahulu kita menciptakannya”. Artinya kita membutuhkan paradigma baru yang dapat membantu kita memahami dan menghayati hidup dalam konteks yang plural. Dan peristiwa ‘membuka paradigma baru’ itu pun pernah dipraktikkan oleh seorang tukang kayu dari Nazaret, di wilayah Palestina, sekitar dua milenium yang lalu. Siapa lagi kalau bukan Yesus yang ditemani oleh 12 murid utama serta puluhan murid lainnya. Dialah ‘pelanggar hukum’ Yudaisme yang membuat gelisah para imam dan ahli Taurat Yahudi di masa itu.
Yesus ‘gerah’ dengan ritual agama yang kehilangan makna (Matius 15:1-20). Yesus mengecam rutinitas ibadat yang hanya berbasiskan kepongahan rohani (Lukas 18: 9-14; Yohanes 8:2-11). Yesus marah pada para pemimpin agama yang hanya gila hormat dan membuat umat mentok spiritualitasnya (Matius 23:1-36). Yesus mengkritik dogma agama yang abai terhadap realitas kebutuhan umat manusia (Lukas 9:13; 13:10-17; 14:1-6). Yesus bahkan meminta agar setiap individu berperan aktif-positif dalam kehidupannya (Matius 5:13-16). Kita yang harus memberi makan mereka yang lapar, memberi minum yang haus, membebaskan orang-orang dari belenggu, memberi pakaian mereka yang telanjang, melawat mereka yang sakit, mengunjungi mereka yang terpenjara, memberi tumpangan pada mereka yang terasing (Matius 25:35-36). Dan kita harus meruntuhkan sekat-sekat perbedaan dalam bingkai paradigma bahwa kita adalah sesama umat manusia (Matius 7:12; Lukas 10:25-37). Yesus juga mengajarkan bahwa beriman kepada Allah identik dengan mengasihi sesama di lingkungan terdekat. Tanpa melihat perbedaan agama, status sosial, suku, ras, dsb.

Berdasarkan Alkitab, kita tahu, Yesus tak berupaya menggagas sebuah agama baru. Ia tak mengajak para murid-Nya menyingkirkan dan menghapus Yudaisme. Yang Ia ubah adalah paradigma umat beragama dalam praktik keberagamaan. Karena paradigma yang picik dan sempit dalam menginterpretasikan Kitab Suci, mempengaruhi perilaku kita dalam berelasi dengan sesama manusia. Juga akan menjadi cerminan bagaimana kita berelasi dengan Tuhan.
Bahwa kegelapan adalah karena ketiadaan terang. Maka Yesus menunjuk setiap kita sebagai terang dunia. Dan bahwa garam adalah bagian ‘penting’ (meski hanya secuil) di tiap dapur keluarga, sekaligus bahan pencegah pembusukan. Maka setiap kita adalah garam dunia. Setiap manusia adalah terang dan garam dunia. Di dunia ini, dalam konteks kekinian. Jika demikian, apakah kita telah menjalankan fungsi keduanya, atau kita meredup dan tawar?
Benar bahwa Tuhan tidak berubah - dulu, kini dan selamanya. Namun, apa jadinya jika institusi keagamaan dan umat beragama tak pernah berubah, gagap dan panik dalam menyikapi tantangan dan persoalan dunia? Jika Tuhan hanya dijadikan pelarian kemalasan kita untuk berubah (metamorphosis) seperti diingatkan oleh Paulus dalam Roma 12:2, untuk apa kita meyakini adanya Tuhan dan menyembah-Nya? Di tengah-tengah bencana yang mendera bangsa kita, dan ribuan korban yang terperangkap rasa ‘gelap’ dan ‘tawar hati’ dalam melanjutkan babak kehidupan selanjutnya, apakah kita pun meredup dan mulai menjadi tawar? Ingatlah, bahwa agama bisa membusuk!


Bandung, 28 Okt 2010
(Dibuat untuk artikel Kolom Bina pada Warta jemaat GKI MY, 7 Nop 2010)
Dommy Waas

Senin, 07 Juni 2010

SILENCE: KEBUNGKAMAN TUHAN dan KONFLIK RELIGIUS TIMUR-BARAT




Novel yang cukup kontroversial ini ditulis dengan latar belakang perkembangan kekristenan di Jepang di abad 17, periode Edo. Francis Xavier telah membawa kekristenan ke Jepang tahun 1549, mendarat di pantai Kagoshima, bersama dua orang Yesuit dan seorang penerjemah Jepang. Pada perkembangannya, pesatnya pertumbuhan kekristenan di Jepang ini sesungguhnya tak lain karena peran Alessandro Valignano. Dialah arsitek atas misi di Jepang. Pada masa itu, penganut Kristen (Kirishitan) tumbuh hingga 300.000 orang.

Namun, saat pemerintahan Ieyasu, Tokugawa pertama penerus Hideyoshi, dimana kekristenan di Jepang mengalami tekanan penganiayaan yang sangat kejam dan mengerikan. Seorang Yesuit Portugis, Sebastian Rodrigues, dikirim ke Jepang untuk membantu gereja setempat selain mencari tahu kondisi mantan gurunya, Ferreira, yang dikabarkan telah murtad karena tak tahan menanggung siksaan. Rodrigues sempat kucing-kucingan dengan para samurai penggeledah desa-desa yang dicurigai – atau diinformasikan – ada penganut Kristen. Yang menarik, Inoe, Gubernur Chikugo yang kejam dan pintar dalam melemahkan para pastor yang ditahan, sangat yakin bahwa kekristenan yang dianut penduduk Jepang tak memiliki jiwa yang mengakar kuat, hanya kerangka yang rapuh. Inoe dan Ferreira begitu yakin bahwa tunas-tunas muda kristianitas tak bisa tumbuh dalam rawa- rawa lumpur Jepang. Alasannya adalah karena Tuhan Kristen yang dianut oleh para penduduk Jepang sesungguhnya ‘berbeda’ dengan Tuhan Kristen yang diajarkan oleh para misionaris ini. Dan orang-orang Eropa atau Barat (para misionaris) dianggap tak mengenal kultur Jepang (Timur). Inoe dengan cerdas memanfaatkan konflik religius (Katolik dan Protestan) antara Spanyol, Inggris, Portugis dan Belanda pada zaman itu. Pada zaman kristianitas dilarang keras di Jepang, dan para penganutnya dikejar-kejar, dipaksa menjadi murtad, dan dibunuh, bukan hal mudah bagi para pastor, termasuk Rodrigues bertahan hidup. Rodrigues akhirnya tertangkap karena pengkhianatan seorang Kristen bernama Kichijiro, persis seperti Yudas yang mengkhianati Yesus dalam Alkitab.

Rodrigues, yang memimpikan bahwa tugasnya sebagai pastor di Jepang adalah juga melindungi dan mengorbankan dirinya untuk para petani miskin – penganut Kristen, justru merasa tak berdaya ketika yang terjadi adalah para petani miskin itu harus mengalami siksaan mengorbankan dirinya hingga Rodrigues – sang pastor – bersedia mengingkari imannya. Disaat-saat menyedihkan, terpojok, serta membuat letih jiwa-raga, Rodrigues mulai mempertanyakan Tuhan yang selama ini dianggapnya sumber kasih. Rodrigues, dengan mata kepalanya sendiri, menyaksikan dua orang penduduk Kristen ditangkap, dipaksa menginjak fumie, diikat pada tiang di tepi pantai, di tengah guyuran hujan dan pasang naik air laut, hingga mati lemas. Rodrigues yang tak berhenti berdoa, melihat kebungkaman Tuhan hingga ia akhirnya bergumul dengan pilihan sulit yang dihamparkan padanya. Bagi para penganut Kristen yang tumbuh dalam kenyamanan serta bebas dari tekanan - seperti yang dialami Ferreira dan Rodrigues – mungkin akan berkata bahwa mereka berdua ‘kurang iman’ dan memberi label ‘Paulus murtad’. Semudah itukah?
Pada bab-bab terakhir, Shusaku Endo, sang penulis, dengan sangat tajam menyuguhkan detil-detil masalah keimanan dan Tuhan, dosa dan pegngkhianatan, mati sebagai martir dan pengingkaran iman.

Rabu, 10 Maret 2010

Save By The Bell: After Dulmatin...What Next?


Pasca tewasnya Noordin M. Top - dalam penyergapan di Dukuh Beji, desa Kedu, Kab. Temanggung, Jawa Tengah - berita tentang penyergapan pelaku teroris yang tengah menjadi buronan berbagai negara kembali mencuat. Siapa tokohnya? Dialah Dulmatin, orang yang menurut Kapolri adalah otak dari peristiwa Bom Bunuh diri di Bali (Bom Bali I) tahun 2002.
Dulmatin akhirnya tewas dalam proses penyergapan Densus 88 di sebuah warnet di wilayah Pamulang, Tangerang Selatan.
Sebuah 'prestasi' bagi pihak kepolisian di negeri ini. Namun, jika saja kita sejenak menarik ingatan kita ke belakang (flash back), ternyata seperti ada kesamaan pola, dalam kedua moment penggerebekan teroris. Ya, antara penggerebekan Noordin M. Top dengan Dulmatin.
Pola yang bisa kita lihat adalah waktu (timming) dimana penggerebekan itu dilakukan (baca: terjadi).
Entah sebuah kebetulan atau tidak, tapi keduanya muncul di tengah hiruk pikuk kasus besar.
Dalam catatan kita, penggerebekan Noordin M. Top (September 2009) terjadi di tengah hiruk pikuk kasus Antasari Azhar, 'Cicak vs Buaya' dan Skandal Bail Out Bank Century. Lalu POLRI 'terselamatkan' dengan moment tewasnya Noordin M. Top.
Dan saat ini, POLRI kembali mengukir prestasi dimoment yang boleh dibilang tepat. Disaat polemik Bank Century sedang berada di puncaknya. Apakah ini hanya kebetulan, semacam 'save by the bell' bagi pihak-pihak tertentu? Atau memang semuanya sudah direncanakan sedemikian rupa dan rapih?
Kita tidak tahu. Tapi ada tiga hal yang patut kita pertanyakan terkait 'prestasi' POLRI dalam hal penggerebekan teroris:

1. Mengapa para pelaku teroris tersebut - khususnya yang dianggap sebagai gembong atau tokoh penting - tidak diupayakan untuk ditangkap hidup-hidup? Apakah POLRI tak memiliki penembak jitu (sniper)? Tidakkah dengan tertangkapnya mereka dalam kondisi hidup, akan memudahkan POLRI mengungkap jejaring teroris lainnya yang ada di Indonesia?

Terkait dengan pertanyaan di atas...

2. Jika para tokoh penting tersebut disepakati harus ditembak mati, lalu dari mana POLRI meyakini jejaring terorisme yang ada di Indonesia, beserta para kaki-tangannya? Okelah ada badan intelejen, tapi tidakkah itu berarti bahwa POLRI sebenarnya sudah tahu lebih dulu?

Atau...

3. Apakah ini hanya sebuah upaya 'menyelamatkan muka' pemerintah Indonesia di mata dunia, dalam hal ini terkait dengan AS (Obama) dan dialog politik dengan Australia?

Jawabannya: Bisa ya, bisa tidak. Tapi kemungkinan akan keterkaitan dari ketiganya bisa saja mungkin.
Lalu setelah tewasnya Dulmatin, isu apalagi yang akan menyeruak menjadi berita sehari-hari dan akan 'menguasai' telinga dan pikiran masyarakat kita? What next?

Senin, 08 Maret 2010

ANAK KOST vs ANAK RUMAHAN?

“Nasib anak kost…”, begitulah judul sebuah lagu parodi lawas yang diadaptasi dari sebuah lagu luar negeri. Liriknya terasa ‘nendang’ alias mewakili apa yang selalu dialami sebagian besar anak kost saat lagu itu populer. Pada kenyataannya isu seputar apa yang dialami oleh anak kost tak hanya diangkat dalam obrolan-obrolan antar sesama anak kost saja. Dalam ruang diskusi dan ceramah-ceramah ibadat keagamaan pun ‘anak kost’ menjadi bagian di dalamnya.

Namun sayangnya, yang diangkat hanya seputar kiriman uang dari orang tua dan pola makan (mie instan). Padahal, ada beragam perspektif yang bisa dicermati dari ‘nasib anak kost’. Bahkan menjadi bahan pembelajaran bagi para orang tua, anak kost, anak rumahan, institusi pendidikan, juga masyarakat. Tentu saja, anak kost sekitar abad ke-20 akan berbeda dengan anak kost abad ke-21. Entah dari sisi anggaran, tempat kost dan fasilitasnya, sosio-kultur lingkungan (trend and life style), perkembangan teknologi, maupun kebijakan-kebijakan pemilik kost, institusi pendidikan, serta pemerintahan setempat yang harus dipatuhi oleh anak kost dan juga pemilik kost. Memangnya kenapa dengan anak kost? Apakah ada perbedaan dasar dengan non anak kost alias anak rumahan?

Jika kita membandingkan kehidupan anak kost dengan anak rumahan sebenarnya ada kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Anak kost memiliki kecenderungan untuk menjadi mandiri. Hal ini disebabkan keterpisahan dirinya dengan keluarga (orang tua), sehingga suka-tidak suka, mereka harus mencari cara, dalam arti kreatif, bagaimana menghadapi berbagai tantangan serta persoalan yang ada seorang diri. Tentu saja, mereka memiliki ‘keluarga baru’ seperti rekan-rekan satu kost, teman kuliah atau orang-orang yang akrab dengan mereka (pacar, dsb.) Keluarga baru inilah yang biasanya menjadi tempat sharing mereka, walhasil mereka pun ‘belajar’ memecahkan persoalan dengan cara mereka sendiri.

Namun tak semua anak kost berhasil menjadi mandiri, karena pola asuh dan pola didik orang tua atau lingkungan asal mereka yang kelewat memanjakan sehingga mereka cenderung menjadi ketergantungan pada keluarga dan mengandalkan orang lain. Kelompok ini biasanya membawa kebiasaan-kebiasaan dari tempat asal mereka dan kurang bisa beradaptasi. Kecenderungan yang muncul antara lain: malas bersih-bersih, pakaian kotor yang menumpuk, bergaya nge-bos (maunya dihargai tapi tak mau menghargai orang lain), bahkan naif dalam praktik keberagamaannya.


Sisi lain dari ‘nasib anak kost’ adalah pola makan yang kurang terjaga. Ini biasanya menjadi tragedi manakala mereka berada pada fase kesibukan dengan tugas kuliah atau masa-masa tugas akhir. Umumnya makanan anak kost cenderung dikaitkan dengan mie instant, yang memang dalam soal kecukupan gizi tak memadai bahkan tak layak untuk dikonsumsi para mahasiswa yang notabene adalah generasi penerus bangsa ini. Risiko mengalami buruknya kesehatan diri pun menjadi taruhan dalam kehidupan mereka. Apalagi jika pasokan uang dari orang tua tersendat, maka lengkaplah penderitaan mereka.

Meski demikian, jika kita memantau kondisi anak kost zaman ini akan jauh berbeda. Dulu, dalam ruang kost-kostan mereka yang kecil, hanya ada meja belajar, lemari pakaian, tumpukan buku dan berkas fotocopy, radio kaset serta beberapa album kaset favorit, dan sebuah ranjang tidur, itupun sangat sederhana. Orang tua mereka pun membekali uang saku secukupnya dan mengirimkan uang kuliah dan biaya hidup melalui wesel yang kadang terlambat karena kesulitan ekonomi. Dan bekal paling berharga bagi mereka adalah doa yang tak putus-putusnya agar si anak berhasil menyelesaikan studinya dengan memuaskan serta menjadi kebanggan keluarga.

Kini semuanya berubah dalam sebuah ruang agak luas yang lumayan harga sewanya, bisa kita dapati seperangkat PC/laptop/netbook beserta koneksi internetnya, tumpukan compact disc (CD/VCD/DVD), hand phone, dispenser, TV, portable player, dalam merek dan model yang up-date. Pola konsumsinya pun gaya American Style alias fast food. Dan tak tanggung-tanggung, si orang tua membekali mereka tak hanya dengan transfer uang sesuai permintaan via ATM, jika perlu memiliki credit card pribadi, juga sebuah mobil baru dengan alasan supaya tak kepanasan dan kehujanan. Nyaris seperti para anggota DPR di negeri ini yang serba difasilitasi, meski kinerjanya dipertanyakan. Tipe anak kost seperti ini tak beda jauh dengan perilaku anak rumahan. Tak sedikit juga anak rumahan yang mandiri, hidup sederhana, serta lulus beradaptasi dengan lingkungan dan mampu menghadapi situasi sulit.

Jadi, masalahnya bukan apakah dia anak kost atau rumahan, melainkan bagaimana pola asuh dan pola didik serta sosio-kultur lingkungan yang membentuk karakter mereka. Itu yang penting menjadi perhatian para orang tua, masyarakat serta pemerintah. Semoga.

Telah dimuat di FOKAL INFO Edisi X

Senin, 22 Februari 2010

NABI JUGA MANUSIA


“Jiwa manusia, seperti halnya sungai dan tanaman, juga membutuhkan hujan,
meski dari jenis berbeda: harapan, keyakinan, alasan untuk hidup.”


Ciri khas dari novel-novel karya Paulo Coelho adalah keberadaan ayat-ayat Alkitab. Bukan sekali ini saja, Coelho mengutip ayat-ayat Alkitab dalam karyanya, entah pada pembukaan, penutup, maupun dalam rangkaian kisahnya. Dibeberapa karyanya seperti The Alchemist (Sang Alkemis), The Witch of Portobello (Sang Penyihir dari Potobello), atau The Devil and Miss Prym (Iblis dan Miss Prym), Coelho juga membubuhinya dengan ‘pas’ dalam alur cerita. Tidak kurang dan tidak lebih.

The Fifth Mountain (Gunung Kelima), novel karya Coelho, diadopsi dari kisah perjalanan seorang nabi berkebangsaan Israel bernama Elia, orang Tisbe-Gilead - yang tercatat dalam kitab Raja-Raja, bagian dari Kitab Perjanjian Lama (Old Testament). Paulo Coelho membuka karyanya ini - mungkin bagian inilah yang menjadi inspirasi tulisannya - dengan mengutip Injil Kristus versi Lukas pasal 4, ayat 24-26:

Dan kata-Nya lagi: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya tidak ada nabi yang dihargai di tempat asalnya. Dan Aku berkata kepadamu, dan kata-Ku ini benar: Pada zaman Elia terdapat banyak perempuan janda di Israel ketika langit tertutup selama tiga tahun dan enam bulan dan ketika bahaya kelaparan yang hebat menimpa seluruh negeri. Tetapi Elia diutus bukan kepada salah seorang dari mereka, melainkan kepada seorang perempuan janda di Sarfat, di tanah Sidon.

Dikisahkan pada masa pemerintahan raja Israel bernama Ahab, seorang nabi muda, berusia 23 tahun bernama Elia, yang juga tukang kayu, harus menyingkir dari wilayah Israel karena nyawanya terancam. Tidak ada pilihan bagi Elia, bahwa ia harus dibunuh. Peristiwa ini berawal ketika Tuhan memerintahkan Elia mengingatkan sekaligus menyampaikan teguran Tuhan kepada raja Ahab, bahwa akan ada kekeringan melanda seluruh negeri jika semua bangsa tidak berhenti menyembah dewa-dewa Fenisia. Izebel, perempuan cantik dari Lebanon yang mendampingi raja Ahab, menghasut sang raja bahwa para nabi adalah ancaman bagi perkembangan dan perluasan kerajaan Israel. Izebel bukanlah perempuan sembarangan, ia berhasil ‘menundukkan’ sang raja sehingga Allah Israel diganti dengan para dewa Lebanon. Izebel seorang pemuja Baal.
Dalam situasi demikian, Tuhan memerintahkan Elia untuk menyingkir ke tepi Sungai Kerit, di sebelah timur Sungai Yordan. Elia berstatus sebagai seorang pelarian. Dan celakanya, ia kesulitan mendapatkan makanan, sementara air sungai itu pun tengah mengering. Namun Tuhan memakai burung gagak yang membawakan potongan makanan kepada Elia. Lalu Elia diminta Tuhan untuk pergi ke sebuah kota bernama Sarfat di wilayah Sidon. Tak hanya itu, ia juga diminta menemui seorang janda yang tinggal bersama anaknya disana. Seorang janda…di Sarfat? Oh…tidak, bukankah ia adalah bagian dari masyarakat penyembah dewa-dewa Fenisia? Tidakkah Tuhan tahu dan hal ini berakibat resistensi terhadap kehadiran dirinya? Dan begitu banyak pertanyaan lain berkecamuk dalam benak Elia.

Dalam usianya yang masih muda, wajar jika Elia memimpikan masa depan yang indah, diantaranya: memperistri seorang perempuan cantik semodel Izebel. Oh, Elia berupaya tak menggubris perasaannya itu. Namun ketika dalam pelariannya di Sarfat, ia jatuh cinta pada perempuan yang janda itu. Perasaan itu baginya adalah hal yang tak pantas dan mengganggu hubungannya dengan Tuhan. Tetapi dalam keinginannya menyingkirkan perasaan itu, ucapan sang malaikat pun membuatnya harus bergumul:

“Tuhan mendengarkan doa-doa orang-orang yang minta dijauhkan dari kebencian. Tapi dia menulikan diri dari orang-orang yang hendak melarikan diri dari cinta.”


Dan pergumulanpun dimulai. Elia sama sekali tak meragukan eksistensi Tuhan, namun eksistensi dirinyalah yang menjadi taruhan. Elia senantiasa merasa berdiri dipersimpangan jalan. Ia harus memilih. Dan karena itulah ia menjadi bagian dari apa yang disebut sebagai manusia. Itulah kelebihan manusia, keberanian untuk memilih. Ada begitu banyak hal yang tak ia mengerti menjadi pertanyaan yang muncul, namun tak lekas terjawab. Itu kadang membuat dirinya meragukan kebijakan Tuhan. Kegundahan, kegusaran, kegelisahan dan keragu-raguan seperti: Mengapa harus aku? Mengapa ini terjadi? Mengapa tidak orang lain saja yang lebih kuat, lebih baik dariku yang dipilih Tuhan? Kapan Tuhan? Dan sesekali kita seolah sengaja ditempatkan oleh Tuhan dalam posisi dilematis. Uugh...posisi yang membutuhkan hikmat dalam mengambil keputusan sekaligus memilih. Itu semua juga dialami seorang nabi. Pertanyaan-pertanyaan yang terkesan seolah meragukan eksistensi Tuhan itu pun menjadi bagian dari kehidupan kita. Bukan hal yang baru dan asing, tapi jauh sebelumnya, bahkan para nabi pun begitu manusiawi.

Sisi lain dari kisah ini adalah betapa tak terduganya dan melampaui akal manusia, apa-apa yang menjadi rencana dan rancangan Sang Pencipta, kepada siapa pun yang dipilihNya untuk menjalankan misi dalam kehidupannya. Tuhan tak selalu mengajak kita pada kelokan-kelokan yang halus dan mulus, namun sesekali Ia menunjukkan pada kita betapa tajam dan kasarnya kelokan-kelokan kehidupan dihadapan kita. Dan lebih sering kita bisa memetik pelajaran berharga dari yang demikian.
Seperti Elia, sang nabi itu, kita lebih banyak berdiri dipersimpangan jalan. Kita harus memilih, meneruskan perjalanan hidup dalam harapan dan iman atau kita diam ditempat dalam kekosongan dan mati tanpa berdaya guna apa-apa. Ya, mungkin disanalah keterbatasan kita – secerdas dan sehebat apapun manusia – tak sanggup melihat sedetikpun apa yang pasti akan terjadi pada dirinya. Seperti apa yang dikatakan oleh malaikat dalam novel ini, bahwa: “Untuk segala sesuatu di bawah matahari ada alasannya.”

“Alasan apa?” Begitulah mungkin, kita menanyakannya dalam ekspresi yang berbeda. Entah dalam bentuk tangis, duka, tertawa, marah, diam, ragu, cinta, ketakpedulian, atau mungkin fanatisme dan fatalistik.

“Pertanyaan itu tidak bisa kita jawab sebelum, atau bahkan selama kita mengalami cobaan-cobaan itu. Setelah berhasil mengatasinya, barulah kita mengerti, mengapa kita diberi cobaan-cobaan tersebut.”
Ya, mungkin itu yang dimaksud dengan beriman. Toh jika kita sudah lebih dulu tahu maksudnya, kecenderungannya adalah kita tak bisa merasakan nilai spiritualitasnya. Kita anggap sebagai rutinitas yang remeh-temeh semata.

Misteri? Ya, itulah bagian dimana Tuhan menguasainya. Melampaui segala akal manusia, tetapi bukan berarti Tuhan tak mau membagi apa maksudNya kepada manusia. Setidaknya, dari karya Coelho yang satu ini, kita diingatkan bahwa...."Hai, nabi juga manusia". Tidak perlu didewa-dewakan amat, merasa malu, tersinggung dan ditutup-tutupi jika dalam diri seorang nabi ada cacat celanya. Tengoklah nabi-nabi selain Elia seperti Daud, Salomo (Sulaiman), Abraham (Ibrahim), Nuh, Musa, dan sebagainya. Semua punya titik lemah dan sangat manusiawi.

Senin, 15 Februari 2010

DICULIK LEWAT FACEBOOK?!



Di tengah maraknya berita penanganan kasus Bank Century atau Century Gate serta persidangan Antasari CS, marak juga berita tentang berita kehilangan anak usia belia hingga yang sudah kuliah. Beberapa peristiwa ‘hilang’ ini uniknya dialami oleh kaum perempuan. Dan lebih anehnya judul berita seolah memojokkan sebuah jejaring sosial tertentu, yaitu Facebook.
Berita itu antara lain:
'Penculik Kenalan dengan Korbannya Melalui Facebook'

'Trauma Korban Penculikan Via Facebook; Histeris Kala Ingat Kejadian'

'Pelaku Perkosaan di Makasasr Mahir Merayu Wanita'

Istilah ‘diculik lewat Facebook’ saya pikir terlalu berlebihan. Bagaimana bisa Facebook melakukan penculikan? Bagaimana mungkin seorang mahasiswi dengan mudah ‘diculik’ oleh seseorang?
Bahkan dibeberapa kesmpatan muncul wacana semacam ‘mengharamkan’ penggunaan Facebook. Memang, ini jadi fenomena menarik bagi kita di tengah kehadiran jejaring sosial tersebut. Apakah benar Facebook-lah yang menjadi biang keladi kasus penculikan seperti yang marak diberitakan? Atau ada agenda lain yang tersembunyi untuk mengalihkan perhatian masyarakat terhadap hal-hal lebih urgent? Jika tidak, apakah judul yang dibuat hanya untuk menyedot perhatian para pembaca semata?

Pada harian Tribun Jabar, 13 Februari 2010, justru judulnya lain: “Kiki Ditemukan Lewat Facebook”. Kiki (18), siswi SMK ICB kelas dua, yang dikabarkan hilang diculik sejak sebulan silam, telah kembali. Ternyata Kiki menghilang ketika ia ke Jakarta untuk menemui saudaranya namun tersesat (alamatnya salah dan tidak bisa dihubungi lewat telepon). Dan tidak hanya itu, Kiki ternyata kabur karena ada masalah uang yang belum dibayar ke sekolah. Proses ditemukannya Kiki, karena ia menulis pesan lewat Facebook.

Saya pikir, media pun harus cerdas dalam mencerdaskan masyarakat. Tidak serta merta memuat berita yang menggiring opini masyarakat menjadi negatif, terhadap jejaring sosial semodel Facebook. Saya akui bahwa ada juga para pengguna jejaring sosial ini yang memanfaatkan untuk pelampiasan emosional semata, serta hal-hal negatif lainnya.
Ditemukannya Kiki seperti cerita di atas, hanyalah satu dari banyak hal positif yang bisa digunakan pengguna Facebook. Saya sendiri bisa terhubung lagi dengan rekan-rekan sewaktu SD, SMP dan SMU lewat Facebook. Bahkan membuat rencana reuni, mengundang untuk hadir dalam sebuah acara diskusi/seminar, serta ada juga yang membuat kerjasama usaha antar teman lewat Facebook. Positif bukan?
Saya yakin, bagi si pembuat Facebook, Mark Elliot Zuckerberg, ia bertujuan baik. Facebook hanyalah alat (tool). Dan patut kita sadari serta akui, bahwa Facebook juga seperti dua sisi mata uang, tergantung niat si pemakai, mau digunakan pada hal negatif atau positif. Jadi, tugas kita bersama sebagai masyarakat pengguna teknologi lah yang harus lebih bijak dan cerdas dalam menggunakan teknologi tersebut.



14 Feb 2010
Dommy Waas

Huff...Valentine Day's Effect ?!

Tulisan ini terinspirasi dengan maraknya 'penolakan' terhadap perayaan hari Valentine di beberapa tempat di Indonesia. Gaung penolakan itu kian terdengar kencang sejak pecahnya moment reformasi 1998. Dulu adem-ayem saja.
Tapi seiring waktu, dan munculnya kelompok-kelompok berbasis agama tertentu yang menganggap bahwa segala hal yang berasal dari barat seolah haram dan tidak compatible dengan kultur serta ajaran agama di Indonesia, maka harus ditolak.
Lahirnya pelarangan atau penolakan terhadap perayaan hari Valentine bukan tanpa alasan. Selain alasan yang ekstrim seperti diatas, juga memang ada alasan-alasan logis yang bisa kita cerna.

Pertama, masyarakat kita - terutama kaum muda - tidak semuanya mengerti dan paham apa itu sesungguhnya hari Valentine itu dan bagaimana sebaiknya mengekspresikannya. Masyarakat kita dalam kondisi labil, apalagi kaum muda yang secara psikologis masih mudah dipengaruhi dan cenderung minta disuapi.

Kedua, moment ini dimanfaatkan dengan baik oleh para pebisnis, baik lokal maupun internasional. Semua hal dikaitkan dengan Valentine day dan bisa menghasilkan uang. Apalagi ini setahun sekali.

Ketiga, khusus di Indonesia, moment ini juga 'dimanfaatkan' oleh pihak-pihak atau kelompok berbasis keagamaan untuk mencari massa guna menimbulkan kesan bahwa mereka didukung oleh banyak pihak.
Contohnya berita "Pelajar Semarang Tolak Valentine", dikatakan bahwa moment ini jauh dari budaya nusantara dan ajaran Islam.

Pernyataan seperti itu menafikan kenyataan bahwa kasih sayang adalah bagian dari tumbuh kembang peradaban manusia di mana pun keberadaannya. Kasih sayang meruntuhkan batas-batas yang mengerdilkan kemanusiaan. Bahkan kasih sayang itu compatible dengan agama Islam - juga agama-agama lainnya di dunia. Jika yang dimaksud dengan kata 'jauh' itu adalah perayaan yang sifatnya hura-hura dan cenderung konsumtif, sebaiknya diperjelas, sehingga masyarakat pun dididik untuk bisa memilah sebuah pernyataan atau statement dengan baik dan benar. Bukan karena label agama semata, namun berdasarkan pertimbangan-pertimbangan logis yang sebenarnya bisa kita lakukan.
Menurut saya, merayakan moment Valentine day ini bisa diekspresikan dengan banyak cara positif.
Bahwa kemungkinan adanya hal-hal negatif yang dilakukan, itu kembali kepada manusianya sendiri.

Mari kita ajak, ingatkan dan didik masyarakat serta generasi muda kita dengan cara yang benar, tidak sekedar memberi label moment ini 'barat', 'produk Yahudi', 'haram', 'sesat', dsb.
Agama itu adalah rambu-rambu lalu lintas kehidupan kita.
Membangung kesadaran masyarakat/umat akan konsekuensi melanggar rambu-rambu yang ada itulah yang harusnya menjadi tanggungjawab kita bersama, terutama institusi keagamaan.
Umat tidak akan menjadi dewasa dalam keberagamaannya ketika agama hanya menjadi rujukan undang-undang guna memberi hukuman semata, tanpa adanya pencerahan logis kepada mereka.
Jadi...agama untuk manusia dan bukan manusia untuk agama
Valentine day untuk manusia dan bukan manusia untuk Valentine day.


Selamat merayakan hari Valentine dengan hal-hal positif dan membangun kehidupan bagi yang merayakannya.



Bandung, 12 Feb 2010
Dommy Waas

Sabtu, 23 Januari 2010

Diskusi Buku: "HOT, FLAT & CROWDED" (Thomas L. Friedman), 8 FEB 2010



Bumi menjadi Panas (Hot) karena kemajuan teknologi yang telah mempercepat laju peningkatan emisi gas-gas rumah kaca ke atmosfer yang menghambat pelepasan hawa panas dari bumi ke ruang angkasa.

Bumu menjadi Rata (Flat) karena kemajuan teknologi komunikasi dan transportasi memungkinkan siapa pun, di mana pun, dapat saling berhubungan dan saling bersaing dalam segala hal dengan mudah sehingga seolah-olah bumi seperti berada di atas sebuah pinggan yang datar.

Bumu menjadi Penuh Sesak (Crowded) karena penduduk yang makin banyak, akibat keberhasilan upaya menekan angka kematian, dan industrialisasi, bertumpuk di kawasan perkotaan dan sekitarnya tanpa upaya yang seimbang dalam pembenahan sarana dan prasarana.

Adakah yang bisa kita lakukan agar dunia tetap menjadi tempat di mana burung bisa terbang dan menyanyi, tempat kita bisa menghirup udara yang bersih, tempat kita tidak takut tenggelam atau takut mengalami kekeringan yang membakar, tempat kita bisa membangun keluarga yang berkecukupan?

GRAMEDIA PUSTAKA UTAMA
bekerjasama dengan
MAJELIS JEMAAT GKI JL. MAULANA YUSUP 20 BANDUNG
mempersembahkan:

DISKUSI BUKU
"HOT, FLAT and CROWDED"
(Thomas L. Friedman)

Nara Sumber:
1. M. Ridwan Kamil (Principal, Senior Architect, Senior Urban Designer)
2. Budiarto Zhambazy (wartawan senior Kompas)

Waktu:
Senin, 8 FEBRUARI 2010
pukul 18.00 WIB

Tempat:
GSG Ruang A-C
GKI Jl. Maulana Yusup 20 Bandung

informasi/pendaftaran:
Sekretariat GKI Jl. Maulana Yusup 20 Bandung
(022 4265130) atau
SMS 081320082544 - 0818217797

GRATIS & Terbuka untuk umum.
+ Doorprize berupa buku-buku (Gramedia) dan film-film (Jive colection)



Salam,
MJ Bid. Pembinaan GKI MY / MYCinema

Dommy Waas
(Sekretaris)

Sabtu, 19 Desember 2009

NArumI


Mencoba mencari-cari soft copy corat-coret 'ungkapan hati', di antara tumpukan copy CD,
yang ketemu baru satu ini...hard copynya mungkin kebuang dengan berkas-berkas lama.
Ini salah satu dari sekian coretan saya.
Saya ga tau ini puisi atau apa...yang jelas jadinya seperti itu.
Jadul banget... :)



NArumI

Pagi ke-1095,
Aku kembali menjengukmu,
Halimun di sekitar tempatmu
mulai menjauh dikoyak cahaya sang fajar,
Masih ada bulir-bulir embun bening
meluncur ragu dari dedaunan
terhempas meredup di atas tanah…

Jalan-jalan masih sunyi,
Tanah merah marun tempatku berpijak
masih lembab oleh guyuran hujan semalam,
Ah…engkau pasti kedinginan,
Biasanya engkau memintaku merapat,
mendekap tubuhmu yang menggigil…

Aku ingin melihat senyummu,
Berharap mendengarkan sapa lembutmu,
derai tawamu, kegundahanmu,
Sesekali engkau sandarkan kepalamu di bahuku
melepaskan lirih pedihmu…

Oh ya,
Aku membawa beberapa tangkai mawar merah kesukaanmu,
Tentu saja dari taman dekat jendela kamarku,
Juga satu kantung melati
dari halaman depan rumahku,
Biasanya engkau memburunya
saat singgah di pondok kecilku,
Ku harap, ini bisa membuatmu tentram…

Ah…aku masih ingat,
Ketika senja beringsut meremang malam,
Engkau bertanya:
“Kenapa kamu mencintaiku?
Kenapa bukan yang lain?”
Aku tak punya jawabannya,
yang keluar dari mulutku:
“Mungkin...kesederhanaan dalam kecantikanmu,
Dan…karena aku laki-laki, kamu perempuan”
Kamu tersenyum kecil, menahan luapan hati,
Mencoba menyembunyikan ketersipuan,
Tanda bahwa jawabanku tak kuasa engkau bantah…

NArumI,
Tanah merah marun ini telah tiga tahun membalutmu,
Membuat jarak yang tak terukur di antara kita,
Meski hanya enam kaki dari jasadmu
Yang telah lelap tertidur,
Dalam doa, tarikan dan hembusan nafasku,
Aku merindukanmu.


Bandung, Jan 1995
(Dommy Waas)

Jumat, 11 Desember 2009

Pacar Gue Ketuaan? Jika Cinta Itu Buta, Maka Nalar Harus Bicara


Ada sebuah pomeo yang menyatakan bahwa “cinta itu buta”. Pernyataan ini buat penulis memiliki makna bersayap yang perlu kita perjelas. Pertama, bisa jadi pomeo tersebut bermaksud kalau falling in love itu tidak memandang siapa, di mana, kapan dan kepada siapa. Terlepas pendapat psikologi perkembangan yang menyatakan adanya batasan usia pubertas bagi seseorang, baik laki-laki maupun perempuan. Kedua, pomeo tersebut bisa diartikan bahwa seseorang yang mengalami jatuh cinta bisa mengalami ‘kebutaan’ akal sehat. Orang yang demikian cenderung memperturutkan perasaan hatinya tanpa diimbangi dengan penggunaan nalarnya. Ada yang bilang kalau jatuh cinta itu berjuta rasanya, susah digambarkan dengan kata-kata. Pokoknya serba indah dan bikin hidup jadi lebih hidup. Apa seindah itu? Sebelum kita lanjutkan, dalam bahasan kali ini, penulis akan banyak menyoroti dari sisi feminim ketimbang sisi maskulin. Mengapa? Karena sudah terlalu lumrah ketika kita bicara dari sisi maskulin. Seakan apapun yang diperbuat dalam bingkai patriarkal, tak bisa digugat bahkan dipertanyakan oleh kaum hawa, yang sejatinya adalah partner dari laki-laki.

Kesetaraan: Sebuah Terobosan Paradigma?
Seiring dengan perkembangan pemikiran manusia, peradaban – yang juga diselingi dengan kebiadaban - pun mengalami perubahan. Apalagi dengan berkembang pesatnya dunia teknologi informasi yang memungkinkan perubahan paradigma di sebuah tempat merambah dan mempengaruhi pergulatan pemikiran di tempat lainnya. Dunia semakin kecil dan ‘didatarkan’, kata Thomas L. Friedman dalam The World is Flat. Sejarah telah membuktikan hal demikian dengan munculnya berbagai gerakan feminisme, yang akarnya adalah perempuan menuntut perlakuan yang setara dengan laki-laki, terutama terkait dengan hak-hak azasinya. Sampai munculnya gerakan feminisme di awal abad ke-18, dunia dengan segala sistem dan hukum yang ada, berjalan dengan wajah dan bingkai patriarkal. Bahkan kitab-kitab suci dan praktik ritual keagamaan pun tak luput dari maskulinitas.
Mary Wollstonecraft, seorang penulis dan pemikir Feminis Liberal Eropa, menyatakan bahwa masyarakat wajib memberikan pendidikan kepada perempuan, seperti juga kepada anak laki-laki, karena semua manusia berhak mendapatkan kesempatan yang setara untuk mengembangkan kapasitas nalar dan moralnya. Sehingga mereka dapat menjadi manusia utuh (Rosemarie Putnam Tong, 1998). Cara pandang demikian, mempengaruhi perilaku dan pola pikir perempuan di dunia Timur (Asia khususnya), yang terbiasa ‘tunduk’ pada tradisi patriarkal. Di Indonesia, kehadiran seorang R.A. Kartini (dengan pemikiran-pemikirannya yang cerdas, merupakan cikal bakal pergerakan feminis Indonesia (emansipasi). Feminisme pun tak luput dari kritik dan membentuk cabang-cabang aliran dalam proses perkembangannya. Diakui atau tidak, perubahan paradigma yang baru – yang dicontohkan oleh feminisme – berdampak pada berbagai aspek kehidupan, termasuk alam demokrasi (politik). Namun, di sisi lain, kita bisa telusuri bahwa pada dasarnya budaya matriarkal lebih dulu ada sebelum ‘ditaklukan’ oleh budaya patriarkal. Hal ini diungkap oleh Erich Fromm dalam Cinta, Seksualitas dan Matriarki, mengenai Hak Ibu (Mother Right) yang diusung oleh Bachofen – seorang rekan Frued yang menganalisis mitos-mitos dan simbol-simbol bangsa Romawi, Yunani dan Mesir. Bachofen menyatakan bahwa struktur patriarkal dalam masyarakat yang kita kenal melalui sejarah peradaban dunia, adalah relatif baru sekarang ini, dan itu didahului sebelumnya oleh status kultural yang menempatkan sosok ibu dalam peran yang sangat penting. Menurut Anthony Giddens (Transformation of Intimacy), seorang pemikir sosial dari Inggris, kesetaraan yang digaungkan kaum perempuan juga telah mengubah realitas hubungan kaum perempuan dan laki-laki. Giddens bahkan seolah mengajak kita – kaum laki-laki dan perempuan – untuk menegosiasikan kembali bentuk ‘keintiman’ yang ingin dijalani oleh kedua pihak. Kesetaraan antara laki-laki dan perempuan , masih menjadi hal yang terus diperdebatkan sembari dikembangkan bentuknya dalam ruang-ruang diskusi bahkan praktik keseharian.
Dari paparan ini, penulis ingin memberi gambaran singkat, bahwa perubahan paradigma – amat mempengaruhi keputusan serta tindakan yang akan kita pilih dan lakukan. Demikian juga dengan sisi kehidupan sosial, seperti keputusan untuk memilih pacar. Dulu, secara umum, akan dianggap tabu jika seorang perempuan menyatakan lebih dulu perasaan cintanya kepada seorang laki-laki. Atau seorang perempuan mempunyai kekasih yang usianya terpaut jauh lebih muda dari dirinya. Orang lantas akan bergosip, bertanya-tanya, bahkan mungkin secara tak langsung memberi cap negatif pada si perempuan. Tapi sekarang? Ada berbagai cara, metode, bahkan argumen yang digunakan kaum hawa untuk bebas menyatakan rasa cintanya pada lawan jenisnya. Pertanyaannya, adakah konsekuensi bagi perempuan ketika memilih kekasih lebih muda? Atau sebaliknya, bagaimana dengan laki-laki yang usia kekasihnya terpaut jauh di atas dirinya? Bagaimana kelangsungan hubungan mereka?

Jika Cinta Itu Buta, Maka Nalar Harus Bicara
Dari hasil jajak pendapat beberapa (25-30 orang) rekan perempuan di Facebook, penulis mendapatkan beberapa pernyataan yang nyaris senada, terkait dengan beberapa pertanyaan di atas. Umumnya perempuan saat ini tak begitu mempermasalahkan rentang usia laki-laki yang terpaut jauh dari usia mereka (7-10 tahun). Mereka justru cenderung melihat dari sisi positif, bahwa mereka akan memilih pacar yang lebih tua usianya ketimbang yang lebih muda. Mengapa? Beberapa alasan yang disampaikan adalah: lebih dewasa, bisa ngemong (membimbing), bisa bermanja-manja, bisa dijadikan teman, bisa berperan rangkap sebagai orang tua, lebih bisa nerima keadaannya (karakter), bisa mendidik, bisa berperan sebagai kakak, dan sebagainya. Alasan umum mengapa mereka tak memilih yang lebih muda, atau mungkin setara, adalah karena dianggap kurang atau tidak dewasa serta tak mampu mengambil peran-peran seperti yang lebih tua usianya. Namun demikian, mereka pun tak serta merta ‘menolak’ jika pacarnya berusia lebih muda, hal ini didasarkan oleh contoh-contoh dari pasangan yang berhasil membina hubungannya hingga ke jenjang pernikahan dan hidup bahagia. Jawaban atau pendapat yang disampaikan kepada penulis memang masih bersifat umum. Belum menyentuh hal-hal yang krusial seperti komunikasi, gap (perbedaan zaman – kultur, dsb.), permasalahan seksualitas, perbedaan latar belakang (pola didik, keluarga, lingkungan, jenjang pendidikan, suku-adat istiadat), bahkan kelanjutan masa depan mereka (uang, anak-anak, hukum yang berlaku). Sekali lagi, semuanya masih umum. Apakah karena memang cinta itu buta? Jika jawabnya “YA”, maka kita harus menggunakan nalar untuk dijadikan dasar pertimbangan memilih. Pertama, seperti yang juga diungkapkan oleh rekan-rekan penulis di Facebook, bahwa sepasang kekasih harus memiliki dasar iman (baca: agama) yang sama, sebagai fundasi hubungan mereka. Amat langka, meski saat ini tengah menjadi wacana urgent agama-agama, bahwa hubungan laki-laki dan perempuan yang beda agama bisa diterima oleh keluarga kedua belah pihak, bahkan masyarakat. Dalam praktiknya, hukum tertulis yang ada pun masih diperdebatkan, dan kalah kuat dengan hukum tak tertulis yang berlaku di tengah masyarakat. Dan dengan demikian, disarankan untuk cari jalan aman saja. Cari yang se-agama.
Hal kedua, masalah komunikasi. Konon, menurut beberapa konselor pernikahan, komunikasi adalah kunci dalam membangun dan mengembangkan sebuah hubungan. Biasanya saat dalam tahap penjajakan (pra pacaran), laki-laki maupun perempuan, keduanya akan merasakan nyambung – tidaknya dalam berkomunikasi. Celakanya, banyak yang keliru, menganggap bahwa nyambung-tidaknya komunikasi hanya ditentukan oleh kesamaan-kesamaan seperti: makanan, hobi, serta hal-hal yang tak prinsipil. Hal ini tidak bisa diabaikan, karena perbedaan usia, latar belakang, keluarga, kultur, lingkungan, status sosial, pendidikan serta paradigma bisa dijembatani dengan adanya komunikasi yang baik dan terus dibangun. Tak kenal maka tak sayang, begitulah kata pepatah. Kenal bukan hanya nama, alamat, nomor telepon atau handphone saja, tapi mengenal karakter, keinginan, visi, pandangan tentang hidup, pandangan tentang pernikahan, dan sebagainya. Bahkan kelemahan atau kekurangan pasangannya pun sebaiknya dikomunikasikan sejak dini, guna terbentuknya saling pengertian satu dengan lainnya. Entah itu kebiasaan-kebiasaan buruk atau hal-hal yang cenderung berakibat negatif serta akan memicu pertikaian dalam hubungan keduanya di masa mendatang. Sakit penyakit yang diidap kita pun hendaknya dikomunikasikan sedemikian rupa, sebijaksana mungkin, kepada pasangan kita. Persoalan keuangan pun, jika tak dikomunikasikan, bisa menjadi pemicu rusaknya sebuah hubungan, baik dalam tahap pacaran maupun pernikahan. Maksudnya tidak untuk dijadikan objek pelampiasan kesalahan ketika terjadi konflik, melainkan masing-masing bisa saling melengkapi, saling menginspirasi, saling menjaga dan saling membangun, serta bersama-sama memperbaiki perilaku atau karakter yang tak sedap jika terus dibiarkan. Dalam hal komunikasi, umumnya laki-laki berusia lebih tua lebih bisa mengendalikan sekaligus memahami pasangannya yang lebih muda, disebabkan banyaknya perbendaharaan ‘pengalaman’ (bisa pengetahuan, komunikasi, pengenalan karakter, dan sebagainya) yang lebih dulu dikuasainya. Sebaliknya, ketika memiliki pacar yang lebih muda usianya, perempuan cenderung merasakan dan mengalami keterbalikan peran-peran yang semestinya diterima dari pasangannya. Meski tak semuanya demikian. Melalui komunikasi (dialog), yang tentu saja berkualitas, maka perbedaan latar belakang, karakter, budaya, pola didik, jenjang pendidikan, bahkan status sosial, akan bisa meminimalisasi jurang (gap) dalam memahami masing-masing pasangannya. Hal yang tak kalah penting adalah perlu adanya kepercayaan serta keterbukaan satu dengan lainnya.
Sejak dini, kita perlu mempertimbangkan hal-hal yang mungkin terjadi. Tentu saja, banyaknya pertimbangan bukan untuk menghambat langkah anda dan pasangan anda untuk terus membangun hubungan ke jenjang yang lebih serius, yakni pernikahan. Pomeo ‘cinta itu buta’ tak boleh kita serap begitu saja. Perlu kita revisi, kita kaji ulang, agar tak menjadi bumerang atau bom waktu yang membunuh dan menghancurkan hubungan antara anda dan pasangan anda. Landasan atau fundasi iman (agama) masih menjadi hal yang primer dalam membina dan membangun hubungan. Inilah yang memberi nilai lebih dalam membentuk karakter laki-laki maupun perempuan sepanjang hubungan itu terjalin, terbangun dan berkembang. Nah, jika cinta itu buta, maka gunakanlah nalar kita untuk bicara. Untuk mempertanyakan kembali apa yang sedang dan akan kita cari, harapkan dan akan berikan dalam membina sebuah hubungan dengan si dia. Semoga.


Daftar Pustaka Rujukan:
Thomas L. Friedman, The World is Flat : Sejarah Ringkas Abad Ke-21, Dian Rakyat, Oktober 2006, .
Rosemarie Putnam Thong, Feminist Thought: Pengantar Paling Komprehensif Kepada Arus Utama Pemikiran Feminis, Jalasutra, 2008, Yogyakarta.
Erich Fromm, Cinta, Seksualitas dan Matriarki: Kajian Komprehensif Tentang Gender, Jalasutra, April 2007, Yogyakarta & Bandung.
Anthony Giddens, Transformation of Intimacy, Fresh Book, Januari 2004, Jakarta.

ARMY OF ROSES: PEREMPUAN, KONFLIK POLITIK DAN BOM BUNUH DIRI


MENGAPA HARUS PEREMPUAN? Itulah pertanyaan yang muncul ketika penulis membaca buku berlabel ARMY OF ROSES, karya Barbara Victor. Berbagai peristiwa bunuh diri dalam berbagai metode untuk mengungkapkan perlawanan terhadap penjajah, umumnya dilakukan oleh kaum laki-laki. Namun bagaimana jika bom bunuh diri marak dilakukan oleh perempuan, terutama di Palestina? Apa yang mendorong mereka melakukan hal itu? Bagaimana mungkin perempuan bisa berubah dari penjaga kehidupan (karena melahirkan anak) menjadi mesin pembunuh? Inilah yang menjadi dasar bagi Barbara Victor mengungkap fenomena tersebut ke hadapan kita. Konflik Palestina-Israel yang berkepanjangan, kepentingan kelompok-kelompok politis (Hamas, Jihad Islam, Fatah, dan para politisi di pemerintahan Palestina), ditambah dengan kultur Palestina yang patriarkal, memposisikan perempuan menjadi pihak yang tertekan dan menjadi warga ‘kelas dua’, bahkan frustasi karena menghadapi jalan buntu. Meskipun menurut seorang psikiater Palestina, Dr. Iyad Sarraj, menyatakan bahwa “penghalang di dalam komunitas Palestina untuk bunuh diri sebenarnya sangat besar ...khususnya dalam budaya yang mereka miliki, yaitu prinsip bahwa bunuh diri itu dosa”. Hal ini digambarkan melalui kisah beberapa perempuan pelaku bom bunuh diri. Wafa Idris, pelopor kamikaze perempuan, juga seorang perempuan yang melanggar aturan-aturan yang berlaku dalam masyarakatnya. Ia disinyalir melakukan aksi tersebut karena tekanan psikologis situasi kultur masyarakatnya sendiri. Wafa, yang menikah dengan sepupunya, Ahmed, melahirkan bayi prematur, tetapi langsung meninggal. Seluruh keluarga kecewa. Ini merupakan aib bagi keluarga mereka, dan Ahmed merasa dipermalukan. Belum lagi keterangan seorang dokter yang bukan ahli kandungan memberitahukan pada Wafa, Ahmed dan keluarganya, bahwa Wafa tak akan bisa melahirkan anak. Seorang rekannya bahkan yakin bahwa Wafa mengalami apa yang disebut ‘inertia’ atau ‘apatis total’. Ketika kehilangan bayinya, ia pun kehilangan kemauan untuk hidup. Kemiskinan dan kebodohan, mungkin bisa menjadi alasan aksi yang dilakukannya. Namun bagaimana jika ditambahkan alasan bahwa dengan aksi demikian, maka perempuan akan sama derajatnya dengan laki-laki? Darine Abu Aisha, baru berumur dua puluh tahun ketika meninggal. Dia mahasiswi yang cerdas. Keluarganya mapan secara finansial. Keluarganya cukup terpandang di tengah masyarakat. Relatif tak terpengaruh oleh kerasnya pendudukan Israel. Namun seiring waktu, Darine semakin mengerti bahwa setinggi apa pun prestasinya di universitas, nasibnya sebagai perempuan Palestina telah dicap mati – perjodohan, punya anak enam atau tujuh, seorang suami yang mungkin tak punya harapan atau keingintahuan tentang kehidupan yang sebanding dengannya. Akhirnya ia menjadi nihilis. Tekanan orang tuanya agar ia menjadi istri yang taat, terus melahirkan anak dan mengasuh anak-anak itu dalam sebuah keluarga, sedangkan suami adalah yang paling berkuasa dan memiliki otoritas mutlak. Darine menentangnya. Dia lebih baik mati.
Dua contoh kontras di atas – dari sisi status sosial maupun pendidikan - memberikan gambaran kepada kita betapa perempuan Palestina dalam posisi yang tak menguntungkan. Celakanya, mereka baru dianggap setara dengan laki-laki, dianggap bisa ‘menebus’ kesalahan atau aib yang dilakukannya – dan hal ini dijustifikasi oleh para tokoh agama konservatif – jika ia bersedia melakukan sebuah aksi bom bunuh diri. Tindakan ini pun diaminkan sebagai tindak kepahlawanan oleh keluarga, masyarakat, bahkan oleh mereka yang berkepentingan secara politis di pemerintahan bangsanya. Meski pada kenyataannya, perempuan pelaku bom bunuh diri ini tetap tak mendapatkan ‘kesetaraan’ dengan kaum laki-laki yang melakukan aksi serupa. Keluarga yang mendapatkan bayaran dari pihak yang merekrutnya tidaklah mendapatkan jumlah uang yang sebanding jika pelakunya laki-laki.
Dengan tepat, Barbara Victor menuliskan posisi perempuan Palestina dalam sosial-kultur bangsanya sendiri demikian: saat ini, perempuan Palestina yang tidak menikah hidup di bawah serangkaian aturan sosial dan agama yang ketat: jika berpendidikan terlalu tinggi, ia dianggap abnormal; jika memandangi laki-laki, ia terancam dikucilkan; jika menolak menikah, ia dianggap lepas kendali; jika tidur dengan laki-laki, khususnya jika hamil, maka ia adalah aib bagi keluarga dan bisa mati di tangan kerabat laki-lakinya (hal. 257).

TUJUANKU ADALAH MENYELAMATKAN NYAWA
Barbara Victor juga mengungkapkan bagaimana para dokter serta perawat dalam sebuah rumah sakit, yang beragam latar belakang agama dan bangsa, berupaya dan tetap bersikap objektif dalam menolong para korban konflik. Mekipun sang dokter adalah seorang ayah dari anak yang tewas akibat serangan bom bunuh diri. Mereka tak boleh mencampuradukan antara pandangan politik dengan pengobatan. Seorang perawat berasal dari sebuah desa kecil Palestina mengungkapkannya saat ditanya bagaimana perasaannya ketika harus menangani pasien dari pihak lawan dalam konflik: “Kutinggalkan politik di rumah ketika aku pergi bekerja. Yang kini kutemui adalah orang-orang yang sangat membutuhkan keahlianku dan perawatanku, dan aku akan melaksanakannya tanpa keraguan. Tujuanku adalah menyelamatkan nyawa. Pasienku tak mengenal kebangsaan ataupun agama.” Tentu saja, ini adalah bagian yang jarang kita dengar di media-media informasi kita. Dari paparan Barbara Victor, kita bisa lebih obyektif melihat bahwa persaudaraan, rasa kemanusiaan serta cinta kasih kepada sesama masih bisa tumbuh dan mekar di tengah-tengah hiruk pikuk peperangan. Informasi yang kita dengar, terima dan cari, lebih sering memihak serta hanya untuk menyenangkan telinga kita. Aksi-aksi yang mengatasnamakan solidaritas kemanusiaan bahkan berbasis agama malah sering menambah parah konflik dan penderitaan. Kita lebih sering memungut ‘sepotong’ informasi, bahkan informasi yang keliru, dengan emosional, tanpa dicerna dan melihat dengan imbang.

KONFLIK POLITIK DAN BOM BUNUH DIRI
Masyarakat dunia, termasuk Indonesia, penting untuk menelusuri perilaku bom bunuh diri yang muncul dan marak sejak tercetusnya konflik Palestina-Israel di wilayah Timur Tengah. Tepatnya 11 Desember 1987, ketika peristiwa Intifadah meletus di seluruh wilayah Tepi Barat dan Gaza. Perilaku bom bunuh diri ini sepertinya janggal jika terjadi di wilayah Palestina, bahkan ketika menyebar hingga ke wilayah Eropa (peristiwa di London), Amerika (peristiwa 11 September 2001), hingga wilayah Asia Tenggara seperti Indonesia. Karena yang kita tahu perilaku tersebut cenderung menjadi trade mark bangsa Jepang yakni yang disebut kamikaze. Namun benarkah demikian? Ternyata, perilaku bom bunuh diri ini mungkin saja telah berembrio sejak 2000 tahun silam. Menurut Robert A. Pape, perlawanan dengan melakukan bunuh diri dahulu kala pernah terjadi di Tanah Palestina. Ketika tanah Palestina masih diduduki oleh Kekaisaran Romawi, aksi itu pernah terjadi. Aksi tersebut dilakukan oleh dua kelompok revolusioner Yahudi militan yakni Zealot dan Sicarii, sebagai bentuk perlawanan terhadap penguasa Romawi serta memrovokasi pecahnya perlawanan rakyat. Dan menurut sejarah, pada tahun 66, pecahlah “Perang Yahudi”. Perang ini berakhir di Masada, namun mereka tak menyerahkan diri kepada penguasa Romawi, melainkan memilih bunuh diri massal, yang dilakukan oleh 980 anggota kelompok itu. Tak hanya itu, Joshepus, seorang sejarahwan pada masa itu menulis bahwa kelompok Zealot Yahudi tidak ragu-ragu melakukan - dan mengakui ketika tertangkap – aksi penyerangan kepada Herodes, penguasa Yudea dengan menggunakan pisau belati yang disembunyikan di balik jubah mereka. Tentu saja, risiko yang akan mereka hadapi ketika ditangkap adalah dijatuhi hukuman mati, entah disalib atau dibakar hidup-hidup. Oleh karenanya, aksi penyerangan ini disebut sebagai misi bunuh diri. Menurut penuturan Mazin B. Qumsiyeh, Israel di zaman modern ini yang memperkenalkan terorisme di Timur Tengah. Kaum Zionis lah yang pertama menggunakan cara teror di Palestina. Tercatat, pada 22 Juli 1946, sebuah truk bermuatan bom milik kaum Zionis meledak di Hotel King David di Jerusalem, yang saat itu menjadi pusat pemerintahan sipil Inggris. Ini adalah bom mobil pertama di Timur Tengah, menewaskan 28 orang Inggris, 41 orang Arab, 17 orang Yahudi, dan lima orang lainnya, serta melukai lebih dari 200 orang. Tak hanya itu, kaum Zionis juga merupakan kelompok yang pertama kali menggunakan bom surat yang dikirimkan ke kantor kementerian Inggris, di Jerusalem. Apakah bom bunuh diri di zaman ini terinspirasi oleh peristiwa di masa lalu tersebut? Belum bisa dipastikan. Tapi keduanya memiliki sebuah pesan yang sama, yakni perlawanan terhadap penjajah dan semuanya dalam konteks politik. Kalaupun dalam aksi-aksi bom bunuh diri ini terkesan kental dengan nuansa agama, maka pada kenyataannya agama hanyalah sebagai alat legitimasi serta tameng dari hasrat (Iibido) para penguasa untuk mempertahankan kekuasaannya semata. Barbara Victor, dalam bukunya ini, ingin mengajak kita melihat lebih dekat dari sisi kultur-sosial fenomena bom bunuh diri yang justru dilakukan oleh kaum perempuan di Palestina. Sebuah fenomena yang bukan saja menarik, tetapi juga membuka paradigma kita untuk memandang secara objektif bagaimana posisi para perempuan Palestina, bom bunuh diri, dan kultur-sosial yang berkelindan dengan justifikasi agama itu nyata adanya di tengah-tengah konflik politik yang memakan banyak korban.

Daftar Pustaka Rujukan:
Trias Kuncahyo, Jerusalem: Kesucian, Konflik dan Pengadilan Akhir, Penerbit Buku Kompas, Jakarta, Desember 2008.
Trias Kuncahyo, Gaza: Tanah Terjanji, Intifada dan Pembersihan Etnis, Penerbit Buku Kompas, Jakarta, Agustus 2009.
Karen Armstrong, Perang Suci: Dari Perang Teluk Hingga Perang Salib, Serambi, Jakarta, Oktober 2003.

Rabu, 02 Desember 2009

DISKUSI SASTRA: NAGABUMI I : Jurus Tanpa Bentuk



SENIN, 14 DESEMBER 2009, pkl. 17.30 WIB
Nara Sumber(2 sastrawan):
1. SENO GUMIRA AJIDARMA
2. ACEP ZAMZAM NOOR
Tempat:
GSG Ruang A-C
GKI Jl. MAULANA YUSUP 20 BANDUNG

Informasi/Pendaftaran (Gratis):
Sekretariat GKI Jl. Maulana Yusup 20 Bandung (022 4265130 - 4232907)
SMS 081320082544 / 0818217797
e-mail: Sekretariatgkimy@gmail.com

Terbuka untuk umum + Doorprize


design poster by: Dommy Waas

Sabtu, 07 November 2009

BILIK-BILIK IMAN: IMAN, SYUKUR dan KEAJAIBAN

Bayangkan, ketika anaknya (Lilin) sedang sakit – menderita anemia rhesus negatif AB, Kokro, sang ayah, dipecat dari pekerjaannya secara tak adil. Kokro bersama Eca, istrinya memiliki tanggungan seorang anak, seorang adik, dan seorang keponakan.

Tak mudah menemukan orang dengan golongan darah rhesus negatif, apalagi untuk jenis golongan AB. Kebanyakan orang bule. Tapi itu pun sangat jarang, Anemia rhesus negatif tergolong penyakit langka (hal. 41). Diperkirakan hidup Lilin tinggal 3-6 bulan (hal. 45). Motor Kokro ditahan karena pembayaran melalui koperasi belum lunas (hal. 46). Eca masuk koran, seorang wartawan memotretnya ketika ia sedang berdoa di depan patung Bunda Maria. Isinya seperti meledek, seperti menyindir bahwa seorang ibu berdoa di depan patung, mohon kesembuhan anaknya yang menderita anemia rhesus negatif. Terasa sinis, karena baris kalimat berikutnya adalah pertanyaan: Apakah di zaman yang sudah sangat modern ini masih perlu menyembah patung atau berhala? (hal. 47).

Pertanyaan yang wajar, seperti teman-teman Nabi Ayub, juga dituangkan penulis melalui Kokro saat ia dipecat: “Saya sudah berhenti mempertanyakan alasan, seperti juga berhenti mempertanyakan kenapa Lilin menderita anemia ini. Kenapa? Apa dari faktor keturunan, apa karena kutukan, apa karena kurang memuliakan Tuhan…saya tak mempertanyakan lagi. Jadi kalau saudara-saudara ingin memprotes silakan…kalau mau membuat demo, silakan…kalau menerima, silakan.” (hal. 53).

Iman biasanya diidentikan dengan keyakinan atau percaya. Amat mudah (bahkan mungkin terkesan murahan) kosa kata ‘iman’ keluar dari mulut para ulama atau pendeta di atas mimbar. Atau kita yang baru merasakan keberimanan itu seperti orang yang baru jatuh cinta. Pubertas beragama atau bisa juga disebut pubertas bertuhan atau ABG dalam beragama. Hal ini wajar saja dalam proses bertumbuh. Namun jika stop sampai di sana,jumud dan menutup pintu ijtihad, ini yang berbahaya. Bukan hanya bagi proses keberimanan orang itu sendiri, tapi juga bagi orang lain, bagi masyarakat, bangsa, bahkan agama itu sendiri. Kalau boleh saya sebut, akan terjadi ‘bunuh diri spiritualitas’. Terlalu mengerikan kedengarannya.
Amat biasa jika umat dihimbau untuk tetap beriman dalam kondisi apapun. Ya, mungkin saran itu harus terus didengungkan dalam ibadat-ibadat, agar umat tetap eling, ingat. Tentu saja umat diharapkan merasa dikuatkan, dimotivasi atau di charge. Namun, dalam realitas hidup, beriman itu tak mudah.

Beriman itu tak lantas mengaminkan seseorang (yang mendaku ber-Tuhan) untuk kebal dari riak-riak, guncangan gelombang bahkan badai pencobaan (yang lazim kita sebut sebagai ujian). Beriman itu tak bulat, tak sederhana dan tak utuh. Beriman seperti memiliki bilik-bilik, sekat-sekat yang beragam manakala kita diperhadapkan pada persoalan-persoalan sehari-hari. Entah persoalan yang sepele, maupun yang pelik dan njelimet – yang terkadang memojokkan kita di sudut-sudut ruang, hampa, menyesakan, dan nyaris membuat kita enggan menggenggam pengharapan pada Sang Khalik langit dan bumi. Seperti bilik, karena iman tak permanen, kaku dan beku seperti tembok. Ukuran kekuatan keberimanan seseorang tak bisa dianalogikan kepada kekakuan dan kekerasan, melainkan kelenturan dan kelembutan dalam menghadapi berbagai ranah permasalahan maupun ketiadaan permasalahan. Bukan juga menjadi mbalelo dan tak punya pendirian.

Novel dewasa karya Arswendo Atmowiloto ini menggambarkan ketidaksederhanaan manusia dalam beriman dari sudut pandang keluarga dengan background Katolik, yang mengalami pasang naik dan pasang surut beriman. Penulis dengan ringan – sambil tetap kritis – mengajak kita para pembaca membuka hati sambil ‘menelaah ulang’ makna keberimanan, bersyukur dan keajaiban bagi diri kita pribadi.

Ada lagi sebuah percakapan yang bisa jadi renungan kita bersama seperti di halaman 210-222:
“…kalau kita berdoa kerasrasras, lalu terjadi seperti apa yang kita maui rasa-rasanya koq kita bisa memaksakan kehendak kita. Kalau kita memaksakan kehendak kita sendiri, kita yang berkuasa.”
“Bahkan kalau kita diajari berdoa oleh Tuhan, diberi tahu caranya, tidak selalu harus terkabul.”
“Kalau tak bisa menciptakan nasi atau cabe, paling tidak kita bisa memasaknya.”


Dan dengan sederhana, namun tanpa menyederhanakan, diakhir cerita, percakapan menarik lainnya bagi saya, ada pada halaman 234-235:
“Bukan keberhasilan Lilin atau kegagalan, melainkan kita menjalani masa-masa seperti itu. Ketika kita bisa menjalani dengan ikhlas, dengan tulus, dengan apa adanya, itulah arti bersyukur.”
“Bersyukur itu lega, tidak cemas, tidak lagi dibalut rasa takut, tidak berputar-putar dengan mencari alasan.”
“Keajaiban terasakan ketika ada pertolongan atas Lilin. Atau ketika saya menyadari bahwa Lilin menderita. Tapi juga bisa berarti keajaiban ini karena kita merasakan, mengalami. Itulah keajaiban utama, dimana kita menjadi bebas menjalani. Kita merdeka.”
“Keajaiban bisa berarti ketika kita makin mendekat kepada Tuhan, dengan segala doa, segala upaya kepatuhan dan kesetiaan. Tapi juga berarti kita menyatu dengan Tuhan, dan tetap bisa memaknai tanda-tanda yang diberikan, dan tetap hidup dalam kenyataan sehari-hari.”


Ya, semestinya kita memegang keajaiban itu dengan tetap bisa memaknai tanda-tanda yang diberikan, dan tetap hidup dalam kenyataan sehari-hari. Bukan nanti dan disana (surga), namun kini dan disini (dibumi).

Lebih sering beriman itu mirip ketika kita tengah berada dalam perjalanan, lalu hujan datang, dan kita harus menepi sejenak untuk memakai jas hujan dan melanjutkan perjalanan, menerobos hujan, sambil tetap waspada. Atau benar-benar kita harus berteduh, menunggu hujan mereda atau berhenti. Semua itu dilakukan agar kita tidak basah kuyup dan berakibat tak menyenangkan yaitu sakit. Beriman ternyata tak sekedar dikoar-koarkan di atas mimbar semata. Beriman bukan berarti melangkah dengan kekonyolan (yang selalu kita samakan dengan keberanian), melainkan juga ditopang oleh akal sehat dalam keberserahan (bukan keterserahan) kita pada Tuhan. Lalu, yang penting -tapi terlalu sering kita lupakan - adalah bahwa kita yakin bahwa Tuhan hadir dan 'hidup' di tengah-tengah kita. Kita tidak sendirian.

Walahualam.

Jumat, 30 Oktober 2009

BERIMAN KEPADA YESUS MASIH DAPATKAH DIPERTANGGUNGJAWABKAN?

Oleh Prof. DR. Bambang Sugiarto

Sinopsis buku Darrell L.Bock et al ,“Mendongkel Yesus dari Tahtanya”

• Isu pokok : kesenjangan antara Yesus teologis (Kristianitas) dan Yesus historis (Yesusanitas); antara Yesus yang dimuliakan sebagai Juru Selamat manusia dan Yesus yang sekedar tokoh sosial-politik biasa saja seperti tokoh sejenis lainnya.
• Pokok bahasan : mengkaji 6 klaim yang bermunculan dari studi mutakhir tentang Yesus historis.
1. Perjanjian Baru asli telah sangat dirusak oleh para penyalin sehingga tak terpulihkan. Buku MYT menjawab, bahwa Perjanjian Baru memiliki dasar manuskrip yang lebih lengkap dari karya-karya literatur Yunani atau Latin yang akhir-akhir ini dimunculkan. Bahkan isi teks yang problematis hanyalah 1 % dari keseluruhan, maka tak mesti mempengaruhi kristianitas.
2. Injil-injil rahasia Gnostik menunjukkan eksistensi Kristianitas Purba yang berbeda. Buku MYT meneliti bahwa injil-injil itu sebetulnya tidak mencerminkan situasi Gereja Purba, sebab umumnya ditulis jauh sesudah penulisan Perjanjian baru dan dalam beberapa hal tak sesuai dengan Yudaisme sebagai latarbelakang obyektifnya.
3. Injil Thomas sangat mengubah pemahaman kita tentang Yesus sejati. YMT mengamati bahwa injil Thomas sangat dipengaruhi paham Gnostik, tidak selaras dengan tradisi Kristen-Yahudi, tidak sealur dengan Perjanjian Lama, dan upayanya mendiskreditkan keduabelas rasul membuat penulisnya justru mencurigakan.
4. Ajaran Yesus pada dasarnya bersifat politik dan sosial, berfokus pada keadilan, dan menentang sistem-sistem dominasi. MYT menjawab bahwa inti ajaran Yesus bukanlah sekedar reformasi politik, melainkan reformasi individu, yang diubah oleh Roh Kudus. Itu sebabnya Ia lebih banyak mengajar di Galilea, bukan di yerusalem.
5. Paulus mengubah misi semula Yesus dan Yakobus, dari Reformasi bangsa Yahudi menjadi gerakan meninggikan Yesus dan merangkul bangsa-bangsa bukan Yahudi. MYT menilai bahwa klaim dari James Tabor -yang memperlihatkan seakan ada ‘dinasti Yesus’- ini tak berdasar. Kristianitas Yahudi Purba juga bukan hanya gerakan Yahudi yang eksklusif dan politis. Sejak awal gerakan itu memang berpusat pada Yesus yang dimuliakan sebagai Kristus.
6. Makam Yesus telah ditemukan; kenaikan dan kebangkitannya tidak terjadi secara fisik. MYT menilai klaim ini pun tak berdasar pada fakta sejarah, budaya Yahudi, dan berbagai ungkapan ihwal kebangkitan badan dan kenaikan Yesus dalam kitab-kitab injil.

• Kesimpulan : jika keenam klaim itu salah maka dasar-dasar bagi Yesusanitas pun diragukan atau sekurang-kurangnya mengandung masalah-masalah berat.


Beberapa Kemungkinan ekstrim ( Deepak Chopra, The Third Jesus, 2008)

1. Argumen Harfiah : Yesus yang sesungguhnya hanyalah yang ada dalam Alkitab. Tak perlu mencari segala sumber lain di luarnya. Kendati pun ada nuansa berbeda-beda, para penginjil umumnya (terutama Mateus, Markus dan Lukas) memiliki fokus yang sama : bicara tentang Yesus yang kurang lebih sama. Masalahnya: Studi ilmiah atas Alkitab kini memperlihatkan banyak masalah di dalamnya, seperti, siapa sebenarnya Mateus, Markus, Lukas dan Yohanes itu dalam hubungannya dengan Yesus; sangat mungkin penulis Alkitab lebih dari sekedar empat orang itu; banyak hal sebetulnya tak tertulis tentang Yesus di masa mudanya, kecenderungan psikologis manusiawinya ( tertawa misalnya), saudara-saudaranya, dsb.; banyak perkataan yang ternyata bukan perkataan Yesus sendiri, dsb. dsb.
2. Argumen Rasionalis : Fakta tentang Yesus telah hilang bersama waktu. Alkitab tak bisa dijadikan bukti tentang Yesus sebagai sosok historis. Alkitab bukanlah data sejarah atau otobiografi, melainkan kesaksian tentang wartaNya. Masalahnya : sebenarnya Alkitab pun dokumen sejarah , namun bukan tentang sosok Yesus, melainkan tentang iman kepadaNya. Sementara kalau pun kita bersikukuh hendak mencari fakta ternyata rasionalitas pun tak menemukan cara paling tepat untuk memilah mana fakta mana bukan. ( Rasionalitas ilmiah seperti mengerti segala hal tentang air, tapi tidak tentang bagaimana berjalan diatas air, misalnya).
3. Argumen Mistik: Yesus yang sesungguhnya bukanlah realitas fisik; Ia adalah Roh Kudus. Pada awalnya adalah Firman, dan Firman ada bersama Tuhan, dan Firman adalah Tuhan, kata Yohanes (Yoh 1:1). Yesus yang real adalah yang abstrak, sang Firman, sang Sabda. Masalahnya : dalam Alkitab,Yesus memang bagian dari wacana teologis spiritual, namun persis karena itu maka cerita bisa sembarangan dan tuntutan atas bukti terus-menerus dihindari. Untuk intelektualitas modern yang kritis dan berjejak di bumi hal seperti itu tidak meyakinkan.
4. Argumen Skeptik: Tak ada Yesus yang real, sebab Ia hanyalah fiksi, produk imajinasi teologis belaka. Masalahnya : bila Yesus hanya fiksi maka sulit sekali memahami arus peradaban raksasa yang telah ditimbulkannya hingga kini. Harus ada sesuatu dasar yang real di balik semua itu. Menganggap semua itu hanya fiksi sebenarnya sama naifnya dengan menganggap bahwa seluruhnya dan secara harfiah nyata. Itu mirip orang-orang yang kini masih bersikukuh mengklaim bahwa Holocaust Hitler tak pernah ada, atau bahwa bumi ini sebenarnya datar belaka.
5. Argumen Kesadaran : Yesus paling nyata dalam rupa kesadaran tertinggi manusia, yang biasa disebut God-Consciousness. Cerita dalam Alkitab melukiskan tingkat kesadaran yang sangat tercerahkan. Siapapun yang menciptakannya haruslah memiliki tingkat kesadaran yang sangat tinggi itu. Dan itu pasti real, nyata. Masalahnya : ada banyak tokoh dengan kesadaran tingkat tinggi semacam itu (Buddha, para pencipta Veda, Confusius, nabi Muhammad SAW,dsb.). Tidak adakah keunikan yang khas pada Yesus ?

Beberapa catatan

1. Buku MYT mencoba menelusuri persoalannya secara cukup scholar, rinci dan komprehensif. Akan tetapi semangat utamanya tetaplah apologetis. Maka kesimpulan bahwa tradisi ortodoksi Kristianitas yang memuliakan Yesus lebih ditopang data historis dibanding klaim-klaim Yesusanitas, menjadi terasa terlalu enteng bila dibanding kesungguhan ilmiah dalam penelusurannya awalnya.
2. Hampir segala tokoh sejarah yang telah terpisah amat jauh dari kita oleh waktu selalu tak meyakinkan dan menimbulkan keraguan : Siapakah sesungguhnya Buddha, Julius Caesar, Shakespeare, Gajah Mada, Syech Sitti Jenar, Diponegoro, dsb ? Maka semakin jauh jarak waktunya semakin gambaran-gambaran kita tentang mereka bercampur fiksi, mitos dan kepentingan-kepentingan tertentu, yang tak selalu mudah memilah-milahnya. Itu adalah fakta yang wajar saja.
3. Tuntutan atas bukti-bukti faktual sejarah ilmiah bagi kehidupan beriman mungkin makin hari makin tak terhindarkan. Itu semacam tuntutan bahwa beriman itu bisa dipertanggungjawabkan dengan rasionalitas alamiah biasa. Tapi yang jadi soal adalah ‘rasionalitas alamiah biasa’ tidaklah identik hanya dengan ‘rasionalitas ilmiah’ belaka. Secara alamiah ada banyak bentuk kelogisan rasional, yang tak mesti ‘ilmiah’. Kehidupan jauh lebih kompleks dan ambigu daripada yang bisa dicerna hanya oleh logika ilmiah.
4. Andai data sejarah dianggap begitu penting, maka cara kerja para sejarawan itu sendiri pun harus dipersoalkan: a) bila para sejarawan setia pada batas data empiriknya belaka, bagaimana mungkin mereka akan pernah peduli pada gejala-gejala supra-natural (yang adalah dasar iman religius)?, b) kalau pada saat mereka menghadapi gejala-gejala supranatural itu mereka lantas memaksakan klaimnya bahwa gejala semacam itu “tidak mungkin” (soal mujizat-mujizat, misalnya), maka sebetulnya mereka melampaui kewenangan ilmiahnya, atau terlampau dikuasai oleh kerangka-kerangka teoretis paradigmatisnya hingga tidak terbuka pada realitas yang sesungguhnya. c) bukankah di balik science, kepercayaan berlebihan terhadap data empirik terukur dan terhadap pola rasionalitasnya yang khas adalah sejenis ‘iman’ juga ? dan pada titik itu maka statusnya menjadi sama dengan ‘iman’ religius ?
5. Beriman adalah ranah ‘makna’ hidup yang tak hanya mencakup fakta sumber masa lalunya, melainkan-bahkan terutama- adalah soal pengalaman eksistensial konkrit yang kita alami secara individual. Pada level makna eksistensial itu seringkali Story memang lebih penting daripada History; cerita bisa lebih berharga daripada fakta sejarah; begitu banyak dongeng yang telah membentuk kiblat nilai kita dan membimbing hidup kita daripada fakta-fakta lugas sejarah. Itu tidak apa-apa, karena yang khas dalam hidup manusia adalah imajinasi dan perasaannya : manusia hidup dalam dan melalui imajinasi dan perasaannya. Ketersentuhan, keharuan, perubahan kiblat hidup yang mendasar, kesadaran kosmik transendental, adalah hal-hal yang juga real, alamiah, dapat dipertanggungjawabkan dan masuk akal, kendati tidak bisa seluruhnya dijelaskan secara ilmiah.
6. Dalam kehidupan religius barangkali yang terutama adalah memang bertumbuhnya kesadaran nilai dan makna ke tingkat lebih tinggi atau lebih mendalam. Dan untuk itu kritik-kritik dari dunia ilmiah bukan tak ada gunanya. Kritik-kritik itu membantu kita melihat kembali terus-menerus mana yang sesungguhnya berharga dan pokok dalam perjalanan iman itu; mereka membuat kita selalu waspada terhadap perangkap-perangkap egoisme, tendensi kekanak-kanakan, kedangkalan, kesombongan dan kenaifan.



Prof.Dr.Bambang Sugiharto, mengajar filsafat di Universitas Parahyangan dan ITB. E-mail : ignatiussugiharto@yahoo.com

Rabu, 28 Oktober 2009

PEMUDA: DIMANAKAH SENGATMU?

Hari ini adalah peringatan hari SUMPAH PEMUDA. Semoga para pemuda Indonesia bisa berjalan pada track yg benar. Kalo jd pelajar atau Mahasiswa jangan tawuran melulu, jangan cuma bisa ospek ala militer yg bikin nyawa saudaramu hilang, bikin malu! Jangan hanya bisa sumpah serapah dengan bahasa sampah. Ayo! Pemuda Indonesia, bangkitkan semangatmu membangun negeri ini agar lebih baik! Dimanakah sengatmu?

Selasa, 06 Oktober 2009

MENDONGKEL YESUS DARI TAHTANYA

Diskusi buku "MENDONGKEL YESUS DARI TAHTANYA"
19 OKTOBER 2009, 17.30 WIB
di
GKI Jl. Maulana Yusup 20 Bandung



JESUSANITY or CHRISTIANITY?

Senin, 28 September 2009

INSTITUSI KEAGAMAAN DAN KEBIJAKAN PUBLIK


Rancangan Undang Undang (RUU) Perfilman telah disahkan menjadi Undang Undang (UU) Perfilman yang baru. Sebuah situs (entertainment.kompas.com) menyatakan: para insan perfilman sepakat akan kembali ‘melanggar’ UU tersebut. Dalam tayangan TVOne (Kabar Pagi, 9 September 2009), Mira Lesmana dan Christin Hakim menyayangkan UU Perfilman yang telah jadi tersebut justru lebih buruk dari UU sebelumnya. Sebagian besar isinya – meski berisi kata-kata yang indah – justru membatasi gerak dan kreatifitas dunia perfilman di Indonesia. Tak hanya itu, UU ini begitu didominasi oleh pemikiran-pemikiran atau konsep-konsep dari sudut pandang sekelompok orang atau institusi keagamaan tertentu. Hal ini diperkuat dengan tak diundangnya institusi keagamaan lain, selain dari agama Islam, dalam diskursus RUU Perfilman dan pengesahannya menjadi UU Perfilman. Mira Lesmana telah menyinggung juga persoalan ini. Kenapa institusi keagamaan lain yang ada di Indonesia – yang juga berhak ‘mewarnai’ kebijakan publik di negeri ini – tak dilibatkan dalam proses tersebut? Pertanyaan itu sempat dijawab oleh moderator TVOne, dalam mindset yang tak semestinya dimiliki oleh seorang jurnalis, bahwa hal tersebut wajar karena ‘mayoritas masyarakat kita adalah Muslim’.

Pernyataan atau kebijakan-kebijakan publik yang ditetapkan dengan cara hanya berdasarkan kacamata institusi keagamaan tertentu, dalam praktiknya akan berakibat bias dalam penegakan hukum. Dalam kasus ini, jelas siapa yang berperan besar dalam mewarnai isi UU Perfilman tersebut, yaitu Majelis Ulama Indonesia (MUI), yang anggota-anggotanya belum tentu memahami dunia perfilman. Negara ini dibangun dan tengah menjalani proses demokratisasi. Tujuan yang baik saja belumlah cukup jika tak kita jalankan dengan cara yang baik dan benar. Kebebasan berekspresi melalui media film atau media lainnya semestinya diwadahi dan didukung oleh pemerintah dalam bingkai kebijakan berdasarkan budaya Indonesia, bukan dikerangkeng dengan berbagai kebijakan yang memihak dan bias. Apalagi kebijakan itu digelontorkan dan disetujui hanya didasarkan oleh pertimbangan-pertimbangan institusi keagamaan tertentu.

Tradisi pengambilan kebijakan yang demikian seyogyanya dihentikan. Mengapa? Negara Indonesia adalah negara yang demokratis, bukan berdasarkan agama tertentu. Demokratis bukan berarti segala kebijakan hanya mengacu pada suara mayoritas semata, namun juga dengan melihat kepentingan bersama. Jika tradisi tersebut dipertahankan dan diwariskan atau ditularkan turun temurun, maka ini akan menghambat jalannya proses transformasi demokrasi bangsa kita sendiri. Jika di bagian awal UU Perfilman tersebut dicantumkan ‘…berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa’, semestinya kalimat itu dipahami – seperti juga dalam Pancasila – tak hanya agama tertentu atau agama mayoritas yang berhak berperan aktif dalam membuat kebijakan (UU).

Kemayoritasan umat beragama tertentu (atau kelompok apapun) tidaklah menjadi dasar untuk menomorduakan hak-hak pihak minoritas. Mengakomodir berdasarkan hukum agama, boleh-boleh saja, karena dalam sejarah, agama memang punya peran terhadap perkembangan peradaban manusia. Namun, patut kita ingat, bahwa kecerobohan dan kekeliruan mengakomodir hukum-hukum agama – dengan mengabaikan pihak lain – adalah sebuah bentuk penindasan atas nama hukum.

video RUU Perfilman

Senin, 14 September 2009

OVER RELIGIUS



Terlalu religius...
Berdoa tak putus-putus,
Rajin melakukan ritus-ritus,

Beragama terlalu serius,
Ingin jadi orang kudus,
Hidup selalu ingin bagus,
Jalan selalu milih yang lurus,
Pasangan hidup pun ingin yang mulus,

Maunya banyak fulus,
Dapat apapun maunya yang bagus-bagus,
Beriman disamakan dengan nasi bungkus,
Beribadah tak tulus

Berduri bak pohon kaktus,
Beramal tapi tetap rakus,
Dosa-dosa inginnya dihapus,
Memuja Tuhan sampai terbius,
Yang berbeda dibumi hangus.


DW
Bandung, 29 Agustus 2009

Jumat, 28 Agustus 2009

cin(T)a : kala tuhan telah mati, dan kita membunuhnya

Berikut ini adalah sebuah notes dari facebook cin(T)a-the-movie yang ditulis oleh rekan Junanto Herdiawan.
Semoga bermanfaat.

salam,
Dommy Waas

---------------------------------------------------------------------------------

cin(T)a : kala tuhan telah mati, dan kita membunuhnya


Kenapa Allah menciptakan kita beda-beda kalau Allah cuma ingin disembah dengan satu cara?”

Cina dan Annisa mencintai Tuhan.
Tuhan juga mencintai mereka berdua.
Namun Cina dan Annisa tak bisa saling mencintai.
Karena mereka menyebut Tuhan dengan nama yang berbeda.



Cin(T)a adalah film yang sangat menarik untuk ditonton. Mungkin akhir pekan ini anda perlu meluangkan waktu untuk menontonnya. Ini adalah film indie yang berani membahas sebuah isu sensitif, yaitu isu tentang Tuhan. Di permukaan, film ini mengangkat kisah cinta antara Cina (diperankan oleh Sunny Soon) dengan Annisa (diperankan oleh Saira Jihan). Cina adalah pria etnis Batak Cina yang beragama Kristen. Sementara Annisa adalah wanita berdarah Jawa yang beragama Islam. Di balik kisah cinta mereka, tersembunyi pertanyaan filosofis yang dalam, siapakah Tuhan? Dan mengapa Tuhan menciptakan perbedaan?

Film ini berkisah seputar hubungan dua karakter yang berbeda ras dan agama. Cina yang taat dan rajin ke gereja, serta Annisa, seorang muslimah yang tak pernah meninggalkan sholat. Hubungan mereka bergulir dan diisi dengan berbagai diskusi tentang perbedaan antar mereka. Antara Islam dan Kristen. Berbagai hal yang terkesan tabu, secara berani diangkat dalam diskusi. Soal poligami, perayaan natal, surga, dan neraka, disajikan dengan santai dan tanpa memunculkan konflik. Ujung dari semua diskusi ini adalah mempertanyakan Tuhan. Apa yang ada dalam benak pikiran Tuhan saat menciptakan perbedaan? Mengapa banyak agama di dunia ini? Film yang mengambil setting pada tahun 2000, menggambarkan suasana konflik antar umat beragama di berbagai tempat. Agama telah menjadi alat propaganda yang paling murah untuk bunuh-bunuhan antar manusia sepanjang zaman.

Bagi Annisa, Tuhan adalah seorang Sutradara. Kehidupan diibaratkan putaran film. Manusia adalah pelakunya. Tapi bagi Cina, kalau Tuhan adalah sutradara, maka ia adalah sutradara yang basi. Kegelisahan Cina adalah kegelisahan Nietzsche saat mengatakan “tuhan telah mati, tuhan telah mati, dan kita semua membunuhnya.. (Gott ist tot! Gott bleibt tot! Und wir haben ihn getötet!) ”. Nietzsche telah membunuh tuhan secara metafisik. Ia memang seorang atheis sejati. Tapi ini jugalah yang dikhawatirkan oleh Annisa saat mengatakan, “Dunia ini sudah kebanyakan agama, dunia ini sudah kebanyakan tuhan”.

Ketika nama Tuhan dibawa untuk berperang. Ketika nama Tuhan dibawa dalam setiap konflik. Dan ketika nama Tuhan memisahkan dua orang yang saling mencinta, Tuhan menjadi suatu yang asing. Cina dan Annisa mungkin mewakili satu dari sekian banyak kaum muda yang mempertanyakan Tuhan dan Agama. Di zaman ini, perbedaan nyaris bagai sebuah kutuk. Masing-masing kelompok berusaha memandang dan mendekati Tuhan dengan kebenarannya sendiri. Sementara pendekatan dan pandangan yang “liyan” tentang Tuhan, dianggap sesat atau salah. Yang terjadi kemudian adalah konflik. Fundamentalisme beragama, adalah cara pandang terhadap satu ajaran dan menganggap kebenaran adalah miliknya.

Lantas, apa itu kebenaran? Tuhan siapa yang benar? Annisa bertanya pada Cina, mungkinkah ia masuk surga dalam pandangan Tuhan-nya Cina? Film ini berusaha menampilkan caveat dalam memberi jawaban atas berbagai pertanyaan itu. Kebenaran, dibawa dalam perspektif historis, dalam konteks sosial maupun kultural. Manusia menggambarkan sesuatu dari perspektif yang ia tangkap. Kant menyebut hal ini dengan istilah Das Ding an Sich, bahwa kebenaran pada dirinya sendiri, kita tak pernah tahu. Manusia memiliki keterbatasan dalam melihat seluruh kenyataan.

Saat Monotheisme lahir, kita berharap monotheisme dapat mengatasi pertanyaan yang menggantung pada metafisika klasik, paganisme, maupun agama “primitif”. Levinas dengan taukhid Yudaismenya, telah menempatkan monotheisme agama Ibrahimi (Yahudi, Kristen, dan Islam) sebagai benchmark bagi paradigma keimanan. Levinas mengecam Heidegger yang mengingatkan kita tentang “Ada” dalam tradisi metafisika. “Ada” bukanlah Tuhan, tapi “Ada” mendahului aku yang berpikir. Ada adalah sebuah tafakur, yang menyiratkan kekuatan hati, anugerah, dan yang personal.

Ketika agama menjadi besar, ia tumbuh bagai struktur yang kaku, jauh melampaui makna “Ada”. Kemegahan masjid, gereja, kuil, maupun sinagog, dan kegemerlapan serta hiruk pikuk umat beragama, telah mengambil ruang-ruang sepi dalam relung tafakur. Makna “Ada” telah bergeser pada kerucut perbedaan. Saat itu, agama tak lebih dari sekedar tentang siapa yang benar dan siapa yang salah. Tak heran Karl Marx menyebut agama adalah candu. Agama dianggapnya sebagai candu bagi masyarakat yang mampu membuat lupa akan realitas kehidupan.

Film ini sungguh layak ditonton. Dari sisi sinematografi, penyajiannya sungguh apik. Adegan-adegannya enak dilihat. Musik pengiringnya begitu indah dan tepat dalam menggambarkan suasana hati. Setiap adegan ditampilkan penuh arti. Setiap detil, setiap sudut gambar, pada akhirnya memiliki arti dan perannya masing-masing. Bahkan gerak gerik seekor semut, buah apel, hingga gerak lembut seruas jari pun memegang peranan penting di film ini.

Dalam desah lirihnya, Cina berkata, “apabila tak ada tuhan, tak ada agama, mungkin tak ada perang”. Sebuah pertanyaan cerdas yang sangat berani diangkat di tengah masyarakat kita.

Pada ujungnya, film ini tidak berpretensi memberi jawaban. Namun apalah artinya jawaban. Karena yang dibutuhkan bukan itu. Yang dibutuhkan adalah keberanian mengajukan pertanyaan. Agama, dimanapun ia diturunkan, adalah tentang pertanyaan.

Esensi bulan Ramadhan ini adalah kekosongan. Ramadhan bukan tentang gegap gempita. Ramadhan adalah momen bertafakur. Di dalamnya, memuat pertanyaan-pertanyaan pada diri dan pada Tuhan. Mengapa saya ada, dan hendak ke mana saya menuju.

Film ini, mengajukan pertanyaan-pertanyaan itu.

Selamat Menonton.

Pengikut