Oleh Prof. DR. Bambang Sugiarto
Sinopsis buku Darrell L.Bock et al ,“Mendongkel Yesus dari Tahtanya”
• Isu pokok : kesenjangan antara Yesus teologis (Kristianitas) dan Yesus historis (Yesusanitas); antara Yesus yang dimuliakan sebagai Juru Selamat manusia dan Yesus yang sekedar tokoh sosial-politik biasa saja seperti tokoh sejenis lainnya.
• Pokok bahasan : mengkaji 6 klaim yang bermunculan dari studi mutakhir tentang Yesus historis.
1. Perjanjian Baru asli telah sangat dirusak oleh para penyalin sehingga tak terpulihkan. Buku MYT menjawab, bahwa Perjanjian Baru memiliki dasar manuskrip yang lebih lengkap dari karya-karya literatur Yunani atau Latin yang akhir-akhir ini dimunculkan. Bahkan isi teks yang problematis hanyalah 1 % dari keseluruhan, maka tak mesti mempengaruhi kristianitas.
2. Injil-injil rahasia Gnostik menunjukkan eksistensi Kristianitas Purba yang berbeda. Buku MYT meneliti bahwa injil-injil itu sebetulnya tidak mencerminkan situasi Gereja Purba, sebab umumnya ditulis jauh sesudah penulisan Perjanjian baru dan dalam beberapa hal tak sesuai dengan Yudaisme sebagai latarbelakang obyektifnya.
3. Injil Thomas sangat mengubah pemahaman kita tentang Yesus sejati. YMT mengamati bahwa injil Thomas sangat dipengaruhi paham Gnostik, tidak selaras dengan tradisi Kristen-Yahudi, tidak sealur dengan Perjanjian Lama, dan upayanya mendiskreditkan keduabelas rasul membuat penulisnya justru mencurigakan.
4. Ajaran Yesus pada dasarnya bersifat politik dan sosial, berfokus pada keadilan, dan menentang sistem-sistem dominasi. MYT menjawab bahwa inti ajaran Yesus bukanlah sekedar reformasi politik, melainkan reformasi individu, yang diubah oleh Roh Kudus. Itu sebabnya Ia lebih banyak mengajar di Galilea, bukan di yerusalem.
5. Paulus mengubah misi semula Yesus dan Yakobus, dari Reformasi bangsa Yahudi menjadi gerakan meninggikan Yesus dan merangkul bangsa-bangsa bukan Yahudi. MYT menilai bahwa klaim dari James Tabor -yang memperlihatkan seakan ada ‘dinasti Yesus’- ini tak berdasar. Kristianitas Yahudi Purba juga bukan hanya gerakan Yahudi yang eksklusif dan politis. Sejak awal gerakan itu memang berpusat pada Yesus yang dimuliakan sebagai Kristus.
6. Makam Yesus telah ditemukan; kenaikan dan kebangkitannya tidak terjadi secara fisik. MYT menilai klaim ini pun tak berdasar pada fakta sejarah, budaya Yahudi, dan berbagai ungkapan ihwal kebangkitan badan dan kenaikan Yesus dalam kitab-kitab injil.
• Kesimpulan : jika keenam klaim itu salah maka dasar-dasar bagi Yesusanitas pun diragukan atau sekurang-kurangnya mengandung masalah-masalah berat.
Beberapa Kemungkinan ekstrim ( Deepak Chopra, The Third Jesus, 2008)
1. Argumen Harfiah : Yesus yang sesungguhnya hanyalah yang ada dalam Alkitab. Tak perlu mencari segala sumber lain di luarnya. Kendati pun ada nuansa berbeda-beda, para penginjil umumnya (terutama Mateus, Markus dan Lukas) memiliki fokus yang sama : bicara tentang Yesus yang kurang lebih sama. Masalahnya: Studi ilmiah atas Alkitab kini memperlihatkan banyak masalah di dalamnya, seperti, siapa sebenarnya Mateus, Markus, Lukas dan Yohanes itu dalam hubungannya dengan Yesus; sangat mungkin penulis Alkitab lebih dari sekedar empat orang itu; banyak hal sebetulnya tak tertulis tentang Yesus di masa mudanya, kecenderungan psikologis manusiawinya ( tertawa misalnya), saudara-saudaranya, dsb.; banyak perkataan yang ternyata bukan perkataan Yesus sendiri, dsb. dsb.
2. Argumen Rasionalis : Fakta tentang Yesus telah hilang bersama waktu. Alkitab tak bisa dijadikan bukti tentang Yesus sebagai sosok historis. Alkitab bukanlah data sejarah atau otobiografi, melainkan kesaksian tentang wartaNya. Masalahnya : sebenarnya Alkitab pun dokumen sejarah , namun bukan tentang sosok Yesus, melainkan tentang iman kepadaNya. Sementara kalau pun kita bersikukuh hendak mencari fakta ternyata rasionalitas pun tak menemukan cara paling tepat untuk memilah mana fakta mana bukan. ( Rasionalitas ilmiah seperti mengerti segala hal tentang air, tapi tidak tentang bagaimana berjalan diatas air, misalnya).
3. Argumen Mistik: Yesus yang sesungguhnya bukanlah realitas fisik; Ia adalah Roh Kudus. Pada awalnya adalah Firman, dan Firman ada bersama Tuhan, dan Firman adalah Tuhan, kata Yohanes (Yoh 1:1). Yesus yang real adalah yang abstrak, sang Firman, sang Sabda. Masalahnya : dalam Alkitab,Yesus memang bagian dari wacana teologis spiritual, namun persis karena itu maka cerita bisa sembarangan dan tuntutan atas bukti terus-menerus dihindari. Untuk intelektualitas modern yang kritis dan berjejak di bumi hal seperti itu tidak meyakinkan.
4. Argumen Skeptik: Tak ada Yesus yang real, sebab Ia hanyalah fiksi, produk imajinasi teologis belaka. Masalahnya : bila Yesus hanya fiksi maka sulit sekali memahami arus peradaban raksasa yang telah ditimbulkannya hingga kini. Harus ada sesuatu dasar yang real di balik semua itu. Menganggap semua itu hanya fiksi sebenarnya sama naifnya dengan menganggap bahwa seluruhnya dan secara harfiah nyata. Itu mirip orang-orang yang kini masih bersikukuh mengklaim bahwa Holocaust Hitler tak pernah ada, atau bahwa bumi ini sebenarnya datar belaka.
5. Argumen Kesadaran : Yesus paling nyata dalam rupa kesadaran tertinggi manusia, yang biasa disebut God-Consciousness. Cerita dalam Alkitab melukiskan tingkat kesadaran yang sangat tercerahkan. Siapapun yang menciptakannya haruslah memiliki tingkat kesadaran yang sangat tinggi itu. Dan itu pasti real, nyata. Masalahnya : ada banyak tokoh dengan kesadaran tingkat tinggi semacam itu (Buddha, para pencipta Veda, Confusius, nabi Muhammad SAW,dsb.). Tidak adakah keunikan yang khas pada Yesus ?
Beberapa catatan
1. Buku MYT mencoba menelusuri persoalannya secara cukup scholar, rinci dan komprehensif. Akan tetapi semangat utamanya tetaplah apologetis. Maka kesimpulan bahwa tradisi ortodoksi Kristianitas yang memuliakan Yesus lebih ditopang data historis dibanding klaim-klaim Yesusanitas, menjadi terasa terlalu enteng bila dibanding kesungguhan ilmiah dalam penelusurannya awalnya.
2. Hampir segala tokoh sejarah yang telah terpisah amat jauh dari kita oleh waktu selalu tak meyakinkan dan menimbulkan keraguan : Siapakah sesungguhnya Buddha, Julius Caesar, Shakespeare, Gajah Mada, Syech Sitti Jenar, Diponegoro, dsb ? Maka semakin jauh jarak waktunya semakin gambaran-gambaran kita tentang mereka bercampur fiksi, mitos dan kepentingan-kepentingan tertentu, yang tak selalu mudah memilah-milahnya. Itu adalah fakta yang wajar saja.
3. Tuntutan atas bukti-bukti faktual sejarah ilmiah bagi kehidupan beriman mungkin makin hari makin tak terhindarkan. Itu semacam tuntutan bahwa beriman itu bisa dipertanggungjawabkan dengan rasionalitas alamiah biasa. Tapi yang jadi soal adalah ‘rasionalitas alamiah biasa’ tidaklah identik hanya dengan ‘rasionalitas ilmiah’ belaka. Secara alamiah ada banyak bentuk kelogisan rasional, yang tak mesti ‘ilmiah’. Kehidupan jauh lebih kompleks dan ambigu daripada yang bisa dicerna hanya oleh logika ilmiah.
4. Andai data sejarah dianggap begitu penting, maka cara kerja para sejarawan itu sendiri pun harus dipersoalkan: a) bila para sejarawan setia pada batas data empiriknya belaka, bagaimana mungkin mereka akan pernah peduli pada gejala-gejala supra-natural (yang adalah dasar iman religius)?, b) kalau pada saat mereka menghadapi gejala-gejala supranatural itu mereka lantas memaksakan klaimnya bahwa gejala semacam itu “tidak mungkin” (soal mujizat-mujizat, misalnya), maka sebetulnya mereka melampaui kewenangan ilmiahnya, atau terlampau dikuasai oleh kerangka-kerangka teoretis paradigmatisnya hingga tidak terbuka pada realitas yang sesungguhnya. c) bukankah di balik science, kepercayaan berlebihan terhadap data empirik terukur dan terhadap pola rasionalitasnya yang khas adalah sejenis ‘iman’ juga ? dan pada titik itu maka statusnya menjadi sama dengan ‘iman’ religius ?
5. Beriman adalah ranah ‘makna’ hidup yang tak hanya mencakup fakta sumber masa lalunya, melainkan-bahkan terutama- adalah soal pengalaman eksistensial konkrit yang kita alami secara individual. Pada level makna eksistensial itu seringkali Story memang lebih penting daripada History; cerita bisa lebih berharga daripada fakta sejarah; begitu banyak dongeng yang telah membentuk kiblat nilai kita dan membimbing hidup kita daripada fakta-fakta lugas sejarah. Itu tidak apa-apa, karena yang khas dalam hidup manusia adalah imajinasi dan perasaannya : manusia hidup dalam dan melalui imajinasi dan perasaannya. Ketersentuhan, keharuan, perubahan kiblat hidup yang mendasar, kesadaran kosmik transendental, adalah hal-hal yang juga real, alamiah, dapat dipertanggungjawabkan dan masuk akal, kendati tidak bisa seluruhnya dijelaskan secara ilmiah.
6. Dalam kehidupan religius barangkali yang terutama adalah memang bertumbuhnya kesadaran nilai dan makna ke tingkat lebih tinggi atau lebih mendalam. Dan untuk itu kritik-kritik dari dunia ilmiah bukan tak ada gunanya. Kritik-kritik itu membantu kita melihat kembali terus-menerus mana yang sesungguhnya berharga dan pokok dalam perjalanan iman itu; mereka membuat kita selalu waspada terhadap perangkap-perangkap egoisme, tendensi kekanak-kanakan, kedangkalan, kesombongan dan kenaifan.
Prof.Dr.Bambang Sugiharto, mengajar filsafat di Universitas Parahyangan dan ITB. E-mail : ignatiussugiharto@yahoo.com
Jumat, 30 Oktober 2009
BERIMAN KEPADA YESUS MASIH DAPATKAH DIPERTANGGUNGJAWABKAN?
Label: in the silent moon
19 Oktober 2009,
GKI MY
Rabu, 28 Oktober 2009
PEMUDA: DIMANAKAH SENGATMU?
Hari ini adalah peringatan hari SUMPAH PEMUDA. Semoga para pemuda Indonesia bisa berjalan pada track yg benar. Kalo jd pelajar atau Mahasiswa jangan tawuran melulu, jangan cuma bisa ospek ala militer yg bikin nyawa saudaramu hilang, bikin malu! Jangan hanya bisa sumpah serapah dengan bahasa sampah. Ayo! Pemuda Indonesia, bangkitkan semangatmu membangun negeri ini agar lebih baik! Dimanakah sengatmu?
Selasa, 06 Oktober 2009
MENDONGKEL YESUS DARI TAHTANYA
Diskusi buku "MENDONGKEL YESUS DARI TAHTANYA"
19 OKTOBER 2009, 17.30 WIB
di
GKI Jl. Maulana Yusup 20 Bandung

JESUSANITY or CHRISTIANITY?
19 OKTOBER 2009, 17.30 WIB
di
GKI Jl. Maulana Yusup 20 Bandung

JESUSANITY or CHRISTIANITY?
Senin, 28 September 2009
INSTITUSI KEAGAMAAN DAN KEBIJAKAN PUBLIK

Rancangan Undang Undang (RUU) Perfilman telah disahkan menjadi Undang Undang (UU) Perfilman yang baru. Sebuah situs (entertainment.kompas.com) menyatakan: para insan perfilman sepakat akan kembali ‘melanggar’ UU tersebut. Dalam tayangan TVOne (Kabar Pagi, 9 September 2009), Mira Lesmana dan Christin Hakim menyayangkan UU Perfilman yang telah jadi tersebut justru lebih buruk dari UU sebelumnya. Sebagian besar isinya – meski berisi kata-kata yang indah – justru membatasi gerak dan kreatifitas dunia perfilman di Indonesia. Tak hanya itu, UU ini begitu didominasi oleh pemikiran-pemikiran atau konsep-konsep dari sudut pandang sekelompok orang atau institusi keagamaan tertentu. Hal ini diperkuat dengan tak diundangnya institusi keagamaan lain, selain dari agama Islam, dalam diskursus RUU Perfilman dan pengesahannya menjadi UU Perfilman. Mira Lesmana telah menyinggung juga persoalan ini. Kenapa institusi keagamaan lain yang ada di Indonesia – yang juga berhak ‘mewarnai’ kebijakan publik di negeri ini – tak dilibatkan dalam proses tersebut? Pertanyaan itu sempat dijawab oleh moderator TVOne, dalam mindset yang tak semestinya dimiliki oleh seorang jurnalis, bahwa hal tersebut wajar karena ‘mayoritas masyarakat kita adalah Muslim’.
Pernyataan atau kebijakan-kebijakan publik yang ditetapkan dengan cara hanya berdasarkan kacamata institusi keagamaan tertentu, dalam praktiknya akan berakibat bias dalam penegakan hukum. Dalam kasus ini, jelas siapa yang berperan besar dalam mewarnai isi UU Perfilman tersebut, yaitu Majelis Ulama Indonesia (MUI), yang anggota-anggotanya belum tentu memahami dunia perfilman. Negara ini dibangun dan tengah menjalani proses demokratisasi. Tujuan yang baik saja belumlah cukup jika tak kita jalankan dengan cara yang baik dan benar. Kebebasan berekspresi melalui media film atau media lainnya semestinya diwadahi dan didukung oleh pemerintah dalam bingkai kebijakan berdasarkan budaya Indonesia, bukan dikerangkeng dengan berbagai kebijakan yang memihak dan bias. Apalagi kebijakan itu digelontorkan dan disetujui hanya didasarkan oleh pertimbangan-pertimbangan institusi keagamaan tertentu.
Tradisi pengambilan kebijakan yang demikian seyogyanya dihentikan. Mengapa? Negara Indonesia adalah negara yang demokratis, bukan berdasarkan agama tertentu. Demokratis bukan berarti segala kebijakan hanya mengacu pada suara mayoritas semata, namun juga dengan melihat kepentingan bersama. Jika tradisi tersebut dipertahankan dan diwariskan atau ditularkan turun temurun, maka ini akan menghambat jalannya proses transformasi demokrasi bangsa kita sendiri. Jika di bagian awal UU Perfilman tersebut dicantumkan ‘…berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa’, semestinya kalimat itu dipahami – seperti juga dalam Pancasila – tak hanya agama tertentu atau agama mayoritas yang berhak berperan aktif dalam membuat kebijakan (UU).
Kemayoritasan umat beragama tertentu (atau kelompok apapun) tidaklah menjadi dasar untuk menomorduakan hak-hak pihak minoritas. Mengakomodir berdasarkan hukum agama, boleh-boleh saja, karena dalam sejarah, agama memang punya peran terhadap perkembangan peradaban manusia. Namun, patut kita ingat, bahwa kecerobohan dan kekeliruan mengakomodir hukum-hukum agama – dengan mengabaikan pihak lain – adalah sebuah bentuk penindasan atas nama hukum.
video RUU Perfilman
Label: in the silent moon
28 Sept 2009,
Sebuah kegelisahan untuk demokrasi di Indonesia
Senin, 14 September 2009
OVER RELIGIUS
Terlalu religius...
Berdoa tak putus-putus,
Rajin melakukan ritus-ritus,
Beragama terlalu serius,
Ingin jadi orang kudus,
Hidup selalu ingin bagus,
Jalan selalu milih yang lurus,
Pasangan hidup pun ingin yang mulus,
Maunya banyak fulus,
Dapat apapun maunya yang bagus-bagus,
Beriman disamakan dengan nasi bungkus,
Beribadah tak tulus
Berduri bak pohon kaktus,
Beramal tapi tetap rakus,
Dosa-dosa inginnya dihapus,
Memuja Tuhan sampai terbius,
Yang berbeda dibumi hangus.
DW
Bandung, 29 Agustus 2009
Label: in the silent moon
29 Agustus 2009 Ditulis terinspirasi diskusi "Menelisik Kebebasan Beragam di Indonesia",
Bandung
Jumat, 28 Agustus 2009
cin(T)a : kala tuhan telah mati, dan kita membunuhnya
Berikut ini adalah sebuah notes dari facebook cin(T)a-the-movie yang ditulis oleh rekan Junanto Herdiawan.
Semoga bermanfaat.
salam,
Dommy Waas
---------------------------------------------------------------------------------
cin(T)a : kala tuhan telah mati, dan kita membunuhnya
Kenapa Allah menciptakan kita beda-beda kalau Allah cuma ingin disembah dengan satu cara?”
Cina dan Annisa mencintai Tuhan.
Tuhan juga mencintai mereka berdua.
Namun Cina dan Annisa tak bisa saling mencintai.
Karena mereka menyebut Tuhan dengan nama yang berbeda.
Cin(T)a adalah film yang sangat menarik untuk ditonton. Mungkin akhir pekan ini anda perlu meluangkan waktu untuk menontonnya. Ini adalah film indie yang berani membahas sebuah isu sensitif, yaitu isu tentang Tuhan. Di permukaan, film ini mengangkat kisah cinta antara Cina (diperankan oleh Sunny Soon) dengan Annisa (diperankan oleh Saira Jihan). Cina adalah pria etnis Batak Cina yang beragama Kristen. Sementara Annisa adalah wanita berdarah Jawa yang beragama Islam. Di balik kisah cinta mereka, tersembunyi pertanyaan filosofis yang dalam, siapakah Tuhan? Dan mengapa Tuhan menciptakan perbedaan?
Film ini berkisah seputar hubungan dua karakter yang berbeda ras dan agama. Cina yang taat dan rajin ke gereja, serta Annisa, seorang muslimah yang tak pernah meninggalkan sholat. Hubungan mereka bergulir dan diisi dengan berbagai diskusi tentang perbedaan antar mereka. Antara Islam dan Kristen. Berbagai hal yang terkesan tabu, secara berani diangkat dalam diskusi. Soal poligami, perayaan natal, surga, dan neraka, disajikan dengan santai dan tanpa memunculkan konflik. Ujung dari semua diskusi ini adalah mempertanyakan Tuhan. Apa yang ada dalam benak pikiran Tuhan saat menciptakan perbedaan? Mengapa banyak agama di dunia ini? Film yang mengambil setting pada tahun 2000, menggambarkan suasana konflik antar umat beragama di berbagai tempat. Agama telah menjadi alat propaganda yang paling murah untuk bunuh-bunuhan antar manusia sepanjang zaman.
Bagi Annisa, Tuhan adalah seorang Sutradara. Kehidupan diibaratkan putaran film. Manusia adalah pelakunya. Tapi bagi Cina, kalau Tuhan adalah sutradara, maka ia adalah sutradara yang basi. Kegelisahan Cina adalah kegelisahan Nietzsche saat mengatakan “tuhan telah mati, tuhan telah mati, dan kita semua membunuhnya.. (Gott ist tot! Gott bleibt tot! Und wir haben ihn getötet!) ”. Nietzsche telah membunuh tuhan secara metafisik. Ia memang seorang atheis sejati. Tapi ini jugalah yang dikhawatirkan oleh Annisa saat mengatakan, “Dunia ini sudah kebanyakan agama, dunia ini sudah kebanyakan tuhan”.
Ketika nama Tuhan dibawa untuk berperang. Ketika nama Tuhan dibawa dalam setiap konflik. Dan ketika nama Tuhan memisahkan dua orang yang saling mencinta, Tuhan menjadi suatu yang asing. Cina dan Annisa mungkin mewakili satu dari sekian banyak kaum muda yang mempertanyakan Tuhan dan Agama. Di zaman ini, perbedaan nyaris bagai sebuah kutuk. Masing-masing kelompok berusaha memandang dan mendekati Tuhan dengan kebenarannya sendiri. Sementara pendekatan dan pandangan yang “liyan” tentang Tuhan, dianggap sesat atau salah. Yang terjadi kemudian adalah konflik. Fundamentalisme beragama, adalah cara pandang terhadap satu ajaran dan menganggap kebenaran adalah miliknya.
Lantas, apa itu kebenaran? Tuhan siapa yang benar? Annisa bertanya pada Cina, mungkinkah ia masuk surga dalam pandangan Tuhan-nya Cina? Film ini berusaha menampilkan caveat dalam memberi jawaban atas berbagai pertanyaan itu. Kebenaran, dibawa dalam perspektif historis, dalam konteks sosial maupun kultural. Manusia menggambarkan sesuatu dari perspektif yang ia tangkap. Kant menyebut hal ini dengan istilah Das Ding an Sich, bahwa kebenaran pada dirinya sendiri, kita tak pernah tahu. Manusia memiliki keterbatasan dalam melihat seluruh kenyataan.
Saat Monotheisme lahir, kita berharap monotheisme dapat mengatasi pertanyaan yang menggantung pada metafisika klasik, paganisme, maupun agama “primitif”. Levinas dengan taukhid Yudaismenya, telah menempatkan monotheisme agama Ibrahimi (Yahudi, Kristen, dan Islam) sebagai benchmark bagi paradigma keimanan. Levinas mengecam Heidegger yang mengingatkan kita tentang “Ada” dalam tradisi metafisika. “Ada” bukanlah Tuhan, tapi “Ada” mendahului aku yang berpikir. Ada adalah sebuah tafakur, yang menyiratkan kekuatan hati, anugerah, dan yang personal.
Ketika agama menjadi besar, ia tumbuh bagai struktur yang kaku, jauh melampaui makna “Ada”. Kemegahan masjid, gereja, kuil, maupun sinagog, dan kegemerlapan serta hiruk pikuk umat beragama, telah mengambil ruang-ruang sepi dalam relung tafakur. Makna “Ada” telah bergeser pada kerucut perbedaan. Saat itu, agama tak lebih dari sekedar tentang siapa yang benar dan siapa yang salah. Tak heran Karl Marx menyebut agama adalah candu. Agama dianggapnya sebagai candu bagi masyarakat yang mampu membuat lupa akan realitas kehidupan.
Film ini sungguh layak ditonton. Dari sisi sinematografi, penyajiannya sungguh apik. Adegan-adegannya enak dilihat. Musik pengiringnya begitu indah dan tepat dalam menggambarkan suasana hati. Setiap adegan ditampilkan penuh arti. Setiap detil, setiap sudut gambar, pada akhirnya memiliki arti dan perannya masing-masing. Bahkan gerak gerik seekor semut, buah apel, hingga gerak lembut seruas jari pun memegang peranan penting di film ini.
Dalam desah lirihnya, Cina berkata, “apabila tak ada tuhan, tak ada agama, mungkin tak ada perang”. Sebuah pertanyaan cerdas yang sangat berani diangkat di tengah masyarakat kita.
Pada ujungnya, film ini tidak berpretensi memberi jawaban. Namun apalah artinya jawaban. Karena yang dibutuhkan bukan itu. Yang dibutuhkan adalah keberanian mengajukan pertanyaan. Agama, dimanapun ia diturunkan, adalah tentang pertanyaan.
Esensi bulan Ramadhan ini adalah kekosongan. Ramadhan bukan tentang gegap gempita. Ramadhan adalah momen bertafakur. Di dalamnya, memuat pertanyaan-pertanyaan pada diri dan pada Tuhan. Mengapa saya ada, dan hendak ke mana saya menuju.
Film ini, mengajukan pertanyaan-pertanyaan itu.
Selamat Menonton.
Semoga bermanfaat.
salam,
Dommy Waas
---------------------------------------------------------------------------------
cin(T)a : kala tuhan telah mati, dan kita membunuhnya
Kenapa Allah menciptakan kita beda-beda kalau Allah cuma ingin disembah dengan satu cara?”
Cina dan Annisa mencintai Tuhan.
Tuhan juga mencintai mereka berdua.
Namun Cina dan Annisa tak bisa saling mencintai.
Karena mereka menyebut Tuhan dengan nama yang berbeda.
Cin(T)a adalah film yang sangat menarik untuk ditonton. Mungkin akhir pekan ini anda perlu meluangkan waktu untuk menontonnya. Ini adalah film indie yang berani membahas sebuah isu sensitif, yaitu isu tentang Tuhan. Di permukaan, film ini mengangkat kisah cinta antara Cina (diperankan oleh Sunny Soon) dengan Annisa (diperankan oleh Saira Jihan). Cina adalah pria etnis Batak Cina yang beragama Kristen. Sementara Annisa adalah wanita berdarah Jawa yang beragama Islam. Di balik kisah cinta mereka, tersembunyi pertanyaan filosofis yang dalam, siapakah Tuhan? Dan mengapa Tuhan menciptakan perbedaan?
Film ini berkisah seputar hubungan dua karakter yang berbeda ras dan agama. Cina yang taat dan rajin ke gereja, serta Annisa, seorang muslimah yang tak pernah meninggalkan sholat. Hubungan mereka bergulir dan diisi dengan berbagai diskusi tentang perbedaan antar mereka. Antara Islam dan Kristen. Berbagai hal yang terkesan tabu, secara berani diangkat dalam diskusi. Soal poligami, perayaan natal, surga, dan neraka, disajikan dengan santai dan tanpa memunculkan konflik. Ujung dari semua diskusi ini adalah mempertanyakan Tuhan. Apa yang ada dalam benak pikiran Tuhan saat menciptakan perbedaan? Mengapa banyak agama di dunia ini? Film yang mengambil setting pada tahun 2000, menggambarkan suasana konflik antar umat beragama di berbagai tempat. Agama telah menjadi alat propaganda yang paling murah untuk bunuh-bunuhan antar manusia sepanjang zaman.
Bagi Annisa, Tuhan adalah seorang Sutradara. Kehidupan diibaratkan putaran film. Manusia adalah pelakunya. Tapi bagi Cina, kalau Tuhan adalah sutradara, maka ia adalah sutradara yang basi. Kegelisahan Cina adalah kegelisahan Nietzsche saat mengatakan “tuhan telah mati, tuhan telah mati, dan kita semua membunuhnya.. (Gott ist tot! Gott bleibt tot! Und wir haben ihn getötet!) ”. Nietzsche telah membunuh tuhan secara metafisik. Ia memang seorang atheis sejati. Tapi ini jugalah yang dikhawatirkan oleh Annisa saat mengatakan, “Dunia ini sudah kebanyakan agama, dunia ini sudah kebanyakan tuhan”.
Ketika nama Tuhan dibawa untuk berperang. Ketika nama Tuhan dibawa dalam setiap konflik. Dan ketika nama Tuhan memisahkan dua orang yang saling mencinta, Tuhan menjadi suatu yang asing. Cina dan Annisa mungkin mewakili satu dari sekian banyak kaum muda yang mempertanyakan Tuhan dan Agama. Di zaman ini, perbedaan nyaris bagai sebuah kutuk. Masing-masing kelompok berusaha memandang dan mendekati Tuhan dengan kebenarannya sendiri. Sementara pendekatan dan pandangan yang “liyan” tentang Tuhan, dianggap sesat atau salah. Yang terjadi kemudian adalah konflik. Fundamentalisme beragama, adalah cara pandang terhadap satu ajaran dan menganggap kebenaran adalah miliknya.
Lantas, apa itu kebenaran? Tuhan siapa yang benar? Annisa bertanya pada Cina, mungkinkah ia masuk surga dalam pandangan Tuhan-nya Cina? Film ini berusaha menampilkan caveat dalam memberi jawaban atas berbagai pertanyaan itu. Kebenaran, dibawa dalam perspektif historis, dalam konteks sosial maupun kultural. Manusia menggambarkan sesuatu dari perspektif yang ia tangkap. Kant menyebut hal ini dengan istilah Das Ding an Sich, bahwa kebenaran pada dirinya sendiri, kita tak pernah tahu. Manusia memiliki keterbatasan dalam melihat seluruh kenyataan.
Saat Monotheisme lahir, kita berharap monotheisme dapat mengatasi pertanyaan yang menggantung pada metafisika klasik, paganisme, maupun agama “primitif”. Levinas dengan taukhid Yudaismenya, telah menempatkan monotheisme agama Ibrahimi (Yahudi, Kristen, dan Islam) sebagai benchmark bagi paradigma keimanan. Levinas mengecam Heidegger yang mengingatkan kita tentang “Ada” dalam tradisi metafisika. “Ada” bukanlah Tuhan, tapi “Ada” mendahului aku yang berpikir. Ada adalah sebuah tafakur, yang menyiratkan kekuatan hati, anugerah, dan yang personal.
Ketika agama menjadi besar, ia tumbuh bagai struktur yang kaku, jauh melampaui makna “Ada”. Kemegahan masjid, gereja, kuil, maupun sinagog, dan kegemerlapan serta hiruk pikuk umat beragama, telah mengambil ruang-ruang sepi dalam relung tafakur. Makna “Ada” telah bergeser pada kerucut perbedaan. Saat itu, agama tak lebih dari sekedar tentang siapa yang benar dan siapa yang salah. Tak heran Karl Marx menyebut agama adalah candu. Agama dianggapnya sebagai candu bagi masyarakat yang mampu membuat lupa akan realitas kehidupan.
Film ini sungguh layak ditonton. Dari sisi sinematografi, penyajiannya sungguh apik. Adegan-adegannya enak dilihat. Musik pengiringnya begitu indah dan tepat dalam menggambarkan suasana hati. Setiap adegan ditampilkan penuh arti. Setiap detil, setiap sudut gambar, pada akhirnya memiliki arti dan perannya masing-masing. Bahkan gerak gerik seekor semut, buah apel, hingga gerak lembut seruas jari pun memegang peranan penting di film ini.
Dalam desah lirihnya, Cina berkata, “apabila tak ada tuhan, tak ada agama, mungkin tak ada perang”. Sebuah pertanyaan cerdas yang sangat berani diangkat di tengah masyarakat kita.
Pada ujungnya, film ini tidak berpretensi memberi jawaban. Namun apalah artinya jawaban. Karena yang dibutuhkan bukan itu. Yang dibutuhkan adalah keberanian mengajukan pertanyaan. Agama, dimanapun ia diturunkan, adalah tentang pertanyaan.
Esensi bulan Ramadhan ini adalah kekosongan. Ramadhan bukan tentang gegap gempita. Ramadhan adalah momen bertafakur. Di dalamnya, memuat pertanyaan-pertanyaan pada diri dan pada Tuhan. Mengapa saya ada, dan hendak ke mana saya menuju.
Film ini, mengajukan pertanyaan-pertanyaan itu.
Selamat Menonton.
Kamis, 20 Agustus 2009
KEMERDEKAAN
Pasang naik dan surut perjuangan negeri ini
Dalam jejak ukir kaki tangan kita,
Terjajah atau merdeka…
Semua mengalir silih berganti,
Kemerdekaan?
Mengapa?
Manusia butuh kemerdekaan,
Jika tidak ada kemerdekaan
Apalah bedanya dengan mesin?
Di sudut-sudut sana,
Di persimpangan-persimpangan jalan,
Masih ada jiwa-jiwa yang terbelenggu…
Di ruang-ruang yang sacral
Masih ada belenggu kekerasan,
Menari-nari dalam kuasa-kuasa dogma.
Tangan-tangan keadilan merapuh
Tak kuasa melindungi yang lemah,
Kemerdekaan?
Yang terlupakan manakala kita berkuasa
Memperbudak dan menindas sesame anak bangsa
Atas nama ego dan prestise.
Kita lupa bahwa negeri ini anugerah dari Sang Pencipta,
Dalam warna-warni kultur,
Agama,
Suku bangsa,
Dan bahasa.
Kita angkuh mencoba-coba…
Atas nama Tuhan yang beragam sebutan itu,
Menafikan keberbedaan yang ada,
Dengan mimpi-mimpi liar tak humanis,
Menyingkirkan apa-apa yang beda.
Kemerdekaan?
Ideologi?
Agama?
Ah….di bumi ini…
Ketika kita mengaminkan Tuhan,
Bukankah kemerdekaan manusia
Yang mesti kita pertahankan?
Indonesia bukan milik segelintir konglomerat!
Indoensia bukan punya sekelompok orang kemaruk!
Indonesia bukan tanah garapan para penjahat berseragam bejabat!
Indoenesia tak boleh lagi diberangus kebebasannya!
Indonesia tak lahir dari rahim agama tertentu!
Indonesia dibangun oleh tangan-tangan
Yang mengerti apa itu kebhinekaan,
Yang menghormati apa itu perbedaan.
Perbedaan ada, maka Indonesia ada
Dirgahayu Indonesiaku…
Satu nusa,
Satu bangsa,
Satu bahasa…Indonesia…
Merdeka!!!
Dommy Waas
16 Agust 2009
Dalam jejak ukir kaki tangan kita,
Terjajah atau merdeka…
Semua mengalir silih berganti,
Kemerdekaan?
Mengapa?
Manusia butuh kemerdekaan,
Jika tidak ada kemerdekaan
Apalah bedanya dengan mesin?
Di sudut-sudut sana,
Di persimpangan-persimpangan jalan,
Masih ada jiwa-jiwa yang terbelenggu…
Di ruang-ruang yang sacral
Masih ada belenggu kekerasan,
Menari-nari dalam kuasa-kuasa dogma.
Tangan-tangan keadilan merapuh
Tak kuasa melindungi yang lemah,
Kemerdekaan?
Yang terlupakan manakala kita berkuasa
Memperbudak dan menindas sesame anak bangsa
Atas nama ego dan prestise.
Kita lupa bahwa negeri ini anugerah dari Sang Pencipta,
Dalam warna-warni kultur,
Agama,
Suku bangsa,
Dan bahasa.
Kita angkuh mencoba-coba…
Atas nama Tuhan yang beragam sebutan itu,
Menafikan keberbedaan yang ada,
Dengan mimpi-mimpi liar tak humanis,
Menyingkirkan apa-apa yang beda.
Kemerdekaan?
Ideologi?
Agama?
Ah….di bumi ini…
Ketika kita mengaminkan Tuhan,
Bukankah kemerdekaan manusia
Yang mesti kita pertahankan?
Indonesia bukan milik segelintir konglomerat!
Indoensia bukan punya sekelompok orang kemaruk!
Indonesia bukan tanah garapan para penjahat berseragam bejabat!
Indoenesia tak boleh lagi diberangus kebebasannya!
Indonesia tak lahir dari rahim agama tertentu!
Indonesia dibangun oleh tangan-tangan
Yang mengerti apa itu kebhinekaan,
Yang menghormati apa itu perbedaan.
Perbedaan ada, maka Indonesia ada
Dirgahayu Indonesiaku…
Satu nusa,
Satu bangsa,
Satu bahasa…Indonesia…
Merdeka!!!
Dommy Waas
16 Agust 2009
Langganan:
Postingan (Atom)
