Rabu, 24 Desember 2008

REKONSILIASI: SEBUAH KENISCAYAAN?

Pernah mendengar istilah ‘rekonsiliasi’? Istilah ini tentu saja akan mengingatkan kita pada sosok pemimpin yang lahir di Transkei, Afrika Selatan. Siapa lagi kalau bukan Nelson Rolihlala Mandela (Nelson Mandela). Ia bersama seorang uskup bernama Desmond Tutu, melakukan ‘perlawanan’ terhadap sistem apartheid yang diterapkan pemerintah saat itu. Sistem yang memisahkan secara radikal antara ras kulit putih dengan ras kulit hitam dalam segala hal.
Tentu saja, perlawanan ini tak serta merta membuahkan hasil. Ada hal-hal yang harus diperjuangkan dan dipertimbangkan. Setidaknya dua gagasan yang muncul dari Mandela adalah: pertama, bagaimana Mandela bersama rekan-rekannya berjuang menghapuskan sistem apartheid di negaranya. Kedua, bagaimana ia memperlakukan ‘lawan-lawannya’. Istilah ‘rekonsiliasi’ juga cukup akrab di telinga kita akhir-akhir ini melalui kehadiran Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi (KKR). Tentu saja KKR ini juga sebuah adopsi dari KKR yang dibentuk oleh Mandela dan kepemimpinannya diserahkan pada uskup Desmond Tutu. Untuk apa KKR dibentuk? Bagi Mandela, KKR dibentuk bukan untuk belas dendam atau mencari-cari kesalahan, melainkan untuk mengungkap kejahatan agar publik tahu dan tak mudah melupakannya. Hal ini, menurut Mandela, tak berarti kejahatan itu tak bisa dimaafkan. Lho, mengapa harus dimaafkan ? Karena rekonsiliasi tak mungkin bisa dibangun tanpa didahului proses memaafkan pihak-pihak yang sebelumnya dianggap bersalah (melakukan kejahatan).
Mandela adalah ‘nabi’ pada zamannya. Ia bahkan menerapkan hukum kasih yang diajarkan Yesus Kristus dengan berkata : ”If you want to make peace with your enemy, you have to work with your enemy. Then he becomes your partner.” (Jika Anda ingin berdamai dengan musuh Anda, Anda harus bekerja dengan musuh Anda. Maka ia akan menjadi mitra Anda). Tentu saja bukan berarti kita harus bersama-sama melakukan kejahatan. Namun, bagaimana sikap kita terhadap perilaku ‘musuh-musuh’ kita. Itu yang penting.

Di akhir tahun 2008 ini, tentu saja menjadi moment yang tepat - buat kebanyakan orang, bahkan keluarga - untuk mengkaji ulang perjalanan dibelakang sana selama setahun. Tidak untuk mundur ke belakan tentu saja. Life must go on, begitu sering kita dengar istilah ini. Ada banyak pertanyaan yang menggelayut di benak kita. Kadang sulit bahkan belum terjawab hingga saat ini. Lalu, apa kaitannya dengan rekonsiliasi? Bukankah itu urusan KKR? Oh, tentu saja tak demikian. Rekonsiliasi adalah tanggung jawab setiap kita yang juga adalah bagian dari keluarga, masyarakan, gereja, bahkan bangsa. Secara langusng atau tidak, selalu memiliki insting keterlibatan terhadap kejahatan-kejahatan yang terjadi sepanjang sejarah bangsa ini. Kecenderungan kita adalah mengungkap dan mendaku ‘jasa-jasa’ kita terhadap perikehidupan berbangsa, namun begitu enggan untuk mengungkap dan mengakui kesalahan dan kejahatan kita. Dengan bangga ‘dosa-dosa’ itu kita ‘hadiahkan’ pada generasi-generasi selanjutnya. Kita ‘wariskan’ juga melalui keengganan kita untuk duduk bersama dan berdialog. Menutup pintu-pintu maaf dan pengampunan rapat-rapat, seolah kita sendiri adalah Tuhan.

Masih ingat tragedi-tragedi berdarah yang menghiasi lembar sejarah negeri kita ? Peristiwa tragis dan bernuansa politis pada Mei 1998, masih kita hirup bau amis dan hangusnya. Masih ingat penghilangan (nyawa) para aktivis vokal semacam Widji Tukul, Marsinah, para mahasiswa Trisakti, Munir ? Tentu saja, sebagai bagian dari bangsa ini semestinya kita tak menjadi lupa. Tak juga berarti kita harus mengupayakan pembalasan dendam atau menghimpun kekuatan serta mengekspresikannya dalam ritme kekerasan. Tidak. Seperti kata Yesus Kristus bahwa musuh haruslah dikasihi. Bahwa kekerasan tak akan usai jika kita sambut dengan kekerasan. Apakah ini semudah yang dikatakan? Memang tidak mudah. Justru itulah mengapa pesan ini keluar dari mulut Kristus, yang begitu mengasihi kita. Ia tak ingin kehidupan manusia berantakan karena kekerasan dan dendam. Ia tahu bahwa manusia – dengan pertolonganNya - bisa melakukan upaya rekonsiliasi.

Gereja, tak luput dari alpa. Disaat kelaparan, PHK, kelangkaan BBM, maraknya kasus bunuh diri, kriminalitas, ketidakpedulian, kemiskinan, KKN merajalela, diskriminasi, penindasan, dsb., gereja masih sering bersembunyi di dalam gedung-gedung membuat ‘KKR’ yang lain. ‘KKR’ yang hanya bersifat devosi namun tak menyentuh kebutuhan sesamanya. Gereja lebih suka memainkan peran Pontius Pilatus, yaitu ‘cuci tangan’. Kita sebagai gereja juga masih jengah untuk melakukan rekonsiliasi terhadap diri sendiri. Kita belum bisa memaafkan (mengampuni) orang/pihak lain, bahkan diri sendiri. Kita begitu enjoy membawa beban kemunafikan dalam kehidupan kita, hingga kita lupa bahwa ada pertanggungjawaban yang akan diminta kepada kita suatu saat nanti. Entah hari ini, esok, atau nanti. Hannah Arendt, seorang filsuf wanita, dengan tepat menyatakannya demikian: “Tanpa dimaafkan dan dibebaskan dari konsekuensi perbuatan kita, maka kemampuan kita untuk bertindak seperti yang seharusnya pun akan dibatasi pada suatu perbuatan tunggal yang tak mampu membuat kita pulih; kita akan menjadi korban dari konsekuensi-konsekuensinya selamanya, tidak berbeda dengan tongkat sihir yang kekurangan mantera ampuh untuk mewujudkan keinginan”.

Tahun 2008 akan segera berakhir. Kita akan menyambut tahun 2009 ini dengan iman, pengharapan dan kasih. Mungkin kita akan menyambutnya dengan berbagai cara dan ekspresi. Tapi, pernahkan terpikir untuk menyambutnya dengan menerapkan sepenggal doa Bapa Kami, bahwa: “….kami telah mengampuni orang yang bersalah kepada kami”?
Rekonsiliasi seyogyanya tak hanya mampu dilakukan Mandela dan Desmond Tutu. Kita pun bisa mengikuti jejak mereka. Rekonsiliasi bukan istilah politis, juga bukan istilah dari surga, namun sebuah sikap niscaya yang bisa kita lakukan dan kita mulai dari diri sendiri. Apakah kita pernah diperlakukan seperti ini: disakiti, dilukai, dikhianati, didiskrimasi, dibuang, ditindas, diintimidasi, dsb.? Atau kita pernah memperlakukan orang-orang di sekitar kita demikian? Percayalah, dengan memberlakukan rekonsiliasi, maka kita akan ‘terbebaskan’ dari satu beban lagi. Selamat ber-rekonsiliasi. Selamat menyambut dan menjalani tahun 2009.

Salam,
DW

Selasa, 16 Desember 2008

MENABUR KEKERASAN, MENUAI DENDAM [Budaya Praktik Kekerasan di Indonesia]

“Tiap-tiap masyarakat memiliki mekanisme
yang mengabsahkan, mengaburkan, mengelakkan, dan,
oleh karena itu, mengabadikan kekerasan.”
(L. L. Heise, 1994)

17 September 2007 di GKI MY, di ruang tamu/ruang baca,
sebuah diskusi yang sifatnya mungkin bisa dibilang sekular berjalan dengan dihadiri oleh 10 orang. Di tengah hilir mudik dan hingar bingar mereka yang tengah mempersiapkan diri untuk HUT GKI MY ke-40 esoknya, diskusi ini berjalan cukup seru. Meski kadang ‘tersendat’ karena beberapa pertanyaan yang boleh dibilang tidak kena mengena dengan tema dan tujuan diskusi, dilontarkan seorang peserta yang kalau saya bilang agak nyentrik. Tapi di luar itu semua, ada dua hal dalam catatan saya, yang akan saya bagikan bagi para pembaca:

Pertama, bahwa kekerasan atau praktik kekerasan itu tidak muncul di ruang hampa. Artinya, kekerasan yang muncul dalam suatu tempat dan waktu, itu tidak sekonyong-konyong terjadi begitu saja secara tiba-tiba. Lebih sering, tindak kekerasan itu adalah sebuah akumulasi atau klimaks dari sebuah perseteruan sembunyi-sembunyi atau konflik/perang dingin, juga gencarnya tayangan kekerasan di media-media. Atau bisa juga karena sebuah rekayasa untuk mempertahankan sesuatu yang dilakukan oleh individu atau kelompok tertentu, yang dalam hal ini memiliki power (baca: kekuasaan), dengan menggerakan, memanfaatkan, membayar, memprovokator massa tertentu untuk melakukan tindak kekerasan (perusakan, pembunuhan, pembakaran, dsb.).
Kedua, kekerasan yang terjadi sejak 1965 hingga saat ini, entah atas nama agama (kerusuhan Ambon, Poso, kasus Playboy, tindakan represif terhadap kelompok Ahmadiyah), politik (G30S, GAM, Timor Timur, Mei 1998), ekonomi (kenaikan harga sembako, kelangkaan minyak tanah, konversi minyak tanah ke LPG), etnis (Dayak-Madura), hukum (penggusuran, penambangan, kasus LAPINDO), pendidikan (kasus STPDN, kasus bunuh diri siswa), dsb., disinyalir bahkan bisa dipastikan adalah rentetan upaya-upaya yang dilakukan untuk melanggengkan dua hal berikut:
1. Kekuasaan. Mereka yang berkuasa dan menguasai hajat hidup orang banyak, dengan power-nya, berusaha membuat skenario-skenario yang membuat mereka tetap eksis, dengan menggerakan massa dalam episode-episode kekerasan.
2. Kapitalisme. Mengutip Greg Soetomo, SJ., seorang penulis dalam ‘Hermawan Kartajaya on Church’, bahwa kata ‘pembangunan’ di negeri ini memang berarti ‘menyengsarakan rakyat’. Negara-negara berkembang (baca: miskin) yang berhutang pada negara-negara kapitalis (AS & Eropa), cenderung dibuat/dikondisikan terus menggantungkan hidupnya, kalau bukan diperbudak, pada negara-negara kapitalis tersebut. Hal terbaru adalah rencana akan dibangunnya PLTN (Pusat Listrik Tenaga Nuklir) di Indonesia.
Siapa yang akan diuntungkan? Tentu saja, orang-orang Indonesia (kaum elit, politisi, spekulan) yang tak tahu malu yang selalu mengail keuntungan di tengah keruhnya air mata kaum jelata yang meregang nasib. Dan praktis negara-negara kapitalis yang senantiasa berfoya-foya di atas penderitaan (atau kebodohan?) negara-negara dunia ke tiga, seperti Indonesia. Hmm..bisa jadi apa yang diungkapkan oleh L. L. Heise di atas benar adanya, entah lokal maupun global. Perlu jadi action kita: apa dan bagaimana sikap serta peran kita sebagai the people of God called together dan sekaligus sebagai bagian dari bangsa ini?
Dalam diskusi tanggal 17 September 2007 kemarin, cukup mendorong saya dan beberapa rekan ingin mendiskusikan lebih lanjut tema ‘kekerasan’ ini dalam sebuah forum yang lebih besar. Ada usulan dari seorang aktivis LSM ‘Rumah Kiri’, Mas Sadikin, yang juga hadir di tengah-tengah kami. Bahwa lebih baik lagi jika diadakan sebuah forum diskusi yang menghadirkan nara sumber semacam George Aditjondro.

Salam,
Dommy Waas

Kamis, 11 Desember 2008

NATAL: 'Candu' Kekristenan?

Ada banyak peristiwa yang tercatat di bumi merupakan moment-moment penting bagi umat manusia. Baik dalam pergerakan perkembangan peradaban manusia, maupun noda-noda kebrutalan dan kebiadaban yang sayangnya juga dilakukan oleh manusia. Peristiwa kelahiran, jelas adalah peristiwa yang biasanya disambut dengan gembira dan rasa syukur.
Kelahiran Yesus Kristus, adalah salah satu moment penting – bahkan mungkin terpenting – dalam sejarah umat manusia. Salah satunya adalah pembagian tahun berdasarkan kalender Masehi (M). Kalender dunia dibuat dua bagian: BC (Before Christ = Sebelum Kristus) dan AD ( Anno Domine = Sesudah Kristus). Yang lainnya? Ya, hukum ‘gigi ganti gigi dan mata ganti mata’ di zaman Nabi Musa, diubah menjadi ‘kasihilah musuh-musuhmu dan berkatilah mereka’. Jika saja hukum Musa di atas masih terus dipraktikkan, maka akan banyak manusia yang anggota tubuhnya tak lengkap. Paling tidak, banyak yang ompong dan tak bermata. Bahkan kekerasan akan terus berbalas dengan kekerasan. Tentu saja, kehadiran Yesus Kristus yang singkat di muka bumi ini meninggalkan begitu banyak perubahan yang berarti bagi umat manusia setelah kenaikanNya ke surga. Lalu, apa sesungguhnya makna Natal bagi kita? Mengapa kita memperingatinya? Apakah ada hal-hal signifikan yang mengubah kehidupan kita dengan moment ini? Ataukah Natal hanya sebuah seremoni yang rutin kita lakukan?

Perayaan Natal: Sejarah Singkat

Kapan tepatnya Yesus lahir, masih juga menjadi semacam perdebatan bagi kita. Lalu mengapa kita memperingati Natal pada 25 Desember? Seperti kita ketahui bersama, bahwa 25 Desember pada mulanya adalah juga moment penting bagi sebagian besar masyarakat Romawi di zaman pemerintahan Kaisar Konstantinus Agung di abad ke-4 Masehi. Tanggal 25 Desember adalah hari dewa matahari (Mithra). Kaisar Konstantinus sendiri pada mulanya adalah penganut pagan yang ‘telah maju’ dan percaya pada satu tuhan yang maha tinggi: Sol Invictus, Matahari yang tidak terkalahkan. Namun Ia juga tertarik pada Kekritenan dan mengangkat seorang penasihat – yang juga menjadi sahabatnya – Uskup Hosius dari Kordoba (Richard Rubenstein, 1999). Pada zaman ini, juga terjadi perdebatan teologis di kalangan Kristen mengenai hubungan antara Allah Bapa, Yesus dan Roh Kudus. Ada banyak bidah bermunculan, Diantaranya: Sabelianisme dan Arianisme. Konstantinus juga tengah menghadapi situasi sosial-politis. Maka, pada 336 Masehi, natal dirayakan untuk pertama kalinya. Jadi singkatnya, peristiwa Natal 25 Desember adalah sebuah moment yang diadopsi dari peristiwa perayaan dewa matahari di zaman Kaisar Konstantinus Agung. Kita, sebagai orang Kristen, tentu percaya bahwa ini adalah juga bagian dari campur tangan Tuhan terhadap kekaisaran Romawi. Setidaknya peristiwa ini mengaminkan apa yang dikritik seorang filsuf, Karl Marx, bahwa agama mudah dimanfaatkan secara ideologis. (Marx on Religion, 2002).


Natal: Moment Pembebasan atau ‘Candu’?

Pertanyaan di atas bukan sekedar sebuah keisengan semata. Tapi cobalah kita tanyakan dengan jujur pada diri kita: Mengapa kita merayakan Natal? Apakah karena kita Kristen? Apakah karena rutinitas semata? Atau ada alasan-alasan lain yang lebih baik yang menyatakan bahwa: ‘Natal adalah penting bagi saya’?
Kita menghias gereja atau rumah kita dengan pohon natal dan pernak-perniknya. Kita membeli kado-kado natal untuk dipajang dibawah pohon natal atau bertukar kado. Kita menyiapkan kue-kue dan makanan natal. Kita juga menyiapkan pakaian terbaik guna menyambut hari yang menyenangkan ini. Tidak ada yang salah dengan segala persiapan dan kesibukan diatas. Tapi, jangan-jangan kita tengah ‘kecanduan’ merayakan natal? Natal tengah menjadi ‘candu’. Natal tak lagi memiliki makna yang membuat hidup kita menjadi lebih baik dan berkualitas. Kita hanya merayakannya saja. Sekedar sebuah formalitas sebagai orang Kristen. Harus ada kebaktian malam natal dan hari natal di gereja, namun tak ada lagi kekhidmatan di dalamnya. Kita lupa bahwa peristiwa kelahiran Kristus di dunia, adalah peristiwa yang berdarah-darah. Ada begitu banyak anak-anak kecil terbantai. Kita enggan menggumuli kesederhanaan yang Ia dekap dalam hidupNya. Kita lupa bahwa ada sebuah misi yang diemban oleh Yesus dalam hidupNya, yaitu: Pembebasan. Ya, pembebasan manusia dari kemiskinan spiritualitas. Pembebasan manusia dari perhambaan terhadap hukum-hukum agama yang membebani hidup manusia. Pembebasan manusia dari belenggu ketamakan, kesombongan, keegoisan, korupsi, kolusi dan nepotisme. Pembebasan dari sikap-sikap tak manusiawi. Pembebasan dari ketidakadilan, diskriminasi, dan penindasan. Bahkan atas nama agama.
Ada begitu banyak saudara-saudara kita yang membutuhkan ‘pembebasan’. Ada setumpuk permasalahan di negeri ini yang membelenggu gerak laju cita-cita luhur para pendiri bangsa ini. Misi pembebasan telah dimandatkan Kristus kepada kita. Akankah kita masih tetap terlelap dalam hingar-bingar perayaan natal, berhenti meneruskan misi tersebut? Akankah kita membiarkan diri kita terus ‘kecanduan’ akan hiruk-pikuk aktivitas yang mungkin hanya merupakan bentuk lain dari nafsu konsumtif kemanusiaan kita? Memperingati natal adalah satu hal. Memaknai natal dengan sebuah tindakan membumi - menyentuh kebutuhan umat manusia - adalah hal lain yang selayaknya kita praktikkan sejak dini. Dari diri kita. Dari tengah-tengah keluarga. Dari lingkup gereja kita. Dari ruang-ruang di mana kita beraktivitas. Dan akhirnya : apakah natal kali ini pun kita masih tak bisa menyediakan tempat bagi ‘kelahiran’ Kristus dalam hati serta kehidupan kita? Selamat menyambut dan memaknai natal. Selamat menjadi agen-agen ‘pembebas’ bagi sesama umat manusia.

Selasa, 02 Desember 2008

JANGAN MENGHARAPKAN KEDAMAIAN, JIKA....

Bagi kita yang sempat akrab atau nge-fans berat sama grup band Slank mungkin tidak asing dengan istilah satu ini: “PEACE” (baca: Piss). Artinya: DAMAI. Kalau kita juga pernah dengar salah satu lirik dalam album ke-3 grup band ini, maka kita akan temukan lirik yang membandingkan bangsa kita ini dengan kondisi Texas abad 19 dan Sicilia. Sepertinya masih relevan. Perhatikan saja, di negeri ini tumbuh subur perilaku semodel koboi-koboi mabuk, liar dan hukum di tonjok. Saling menendang, saling menerjang. Adu kuasa, adu senjata. Belum lagi menjelang pemilu 2009, terjadi persaingan. Susah dan semakin berat. Segala cara dihalalkan.

Semua orang pasti memimpikan atau setidaknya memiliki harapan agar kedamaian atau perdamaian itu mewarnai bumi. Pertanyaannya, apakah hal ini hanya sebatas angan-angan semata, atau semestinya bisa kita wujudkan ? Apakah kedamaian-kedamaian yang kita rasakan saat ini sesungguhnya hanya sekedar kedamaian yang semu semata ?
Saya memiliki beberapa catatan – yang juga wujudnya pertanyaan buat diri kita - terhadap harapan akan kedamaian itu sendiri.

Mengapa kita mengharapkan kedamaian :
• Jika saat melakukan ritual ibadat saja bibir kita membeku untuk sesungging senyum pada orang lain ?
• Jika dalam berkendara kita masih saja tak mengindahkan rambu-rambu lalu-lintas?
• Jika di mana-mana kita tak malu membuang sampah sembarangan?
• Jika para pekerja (buruh) masih dijadikan sapi perahan?
• Jika kita masih bersikap ‘narsis’ akan suku, agama, golongan, ras dan warna kulit?
• Jika kita masih mengkonsumsi apa-apa yang merusak diri kita sendiri?
• Jika kita abai terhadap lingkungan social-masyarakat kita?
• Jika dalam hati kita, masih saja menyemai benih kebencian, dendam dan sakit hati?
• Jika kita tak lagi bersikap hormat pada orang tua kita?
• Jika kita tak lagi mendengarkan anak-anak kita?
• Jika kita selalu mengkambinghitamkan pihak lain?
• Jika kita masih menggunduli hutan, meracuni sungai dan mencemari udara?
• Jika kita selalu membuat gaduh telinga orang lain ?
• Jika kita tak pernah berterima kasih dan bersyukur untuk apa yang telah kita terima dan miliki?
• Jika kita tak pernah berdoa dan bekerja keras untuk apa yang akan kita hasilkan?
• Jika kita begitu tamak dan serakah pada kucuran berkat Tuhan?
• Jika kita tetap menutup mata, telinga dan hati kita pada ketidakadilan dan penindasan terhadap hak-hak dasar kemanusiaan?
• Jika kita begitu kaya dengan keinginan untuk dicintai, tetapi jiwa kita begitu miskin dalam mencintai orang lain?
• Jika kita tak pernah berbuat apa-apa….
Untuk keluarga kita,
Untuk saudara kita,
Untuk tetangga kita,
Untuk orang yang tak kita kenal,
Untuk lingkungan tempat tinggal kita,
Untuk gereja,
Untuk orang yang tak segereja,
Untuk orang yang tak seagama,
Untuk kota kita,
Untuk bangsa ini?

Bangunlah! Bermimpi saja dan berharap saja tak cukup! Berani bermimpi pun haruslah diimbangi untuk berani terjaga dari mimpi. Dan juga butuh keberanian yang besar untuk mewujudkan mimpi-mimpi kita.
Kedamaian bukan sekedar mimpi, harapan, cita-cita atau wacana. Kedamaian dimulai dari hati, pikiran dan tindakan yang senantiasa berpusat pada Kristus. Dalam tuntunan dan kuasa Roh Kudus bagi kemuliaan Allah Bapa kita. Jika tidak...kita hanya akan memetik kedamaian yang semu. Selamat terjaga dari mimpi-mimpi dan mewujudkannya.

Salam,
DW

Jumat, 28 November 2008

Selingan Pemikiran: Tentang Kasih dan Keberagamaan

Saat saya sedang asyik dengan ‘mainan baru’ berjudul “Perjumpaan Dengan Tuhan: Ragam Pengalaman Religius Manusia” (mirip-mirip misi GKI MY ya?) karya William James. Membuka halaman-halaman awalnya membuat saya seperti disuguhi makanan baru yang tak afdol jika tak dilahap sampai habis. Banyak hal, meski baru seperempat buku tersebut saya kunyah, membuat jiwa saya tertantang untuk semakin banyak belajar mengenai bagaimana hidup dalam keberimanan saya pada Tuhan, sesama manusia dan alam semesta.

Tentang ‘kasih’, saya hanya memegang ‘rumusan hukum kasih’ versi Yesus Kristus (nama yang terus jadi pergunjingan/perdebatan sepanjang masa, mengalahkan para selebritis, ha…ha…ha), yaitu “Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu, dengan segenap jiwamu, dengan segenap akal budimu, dan dengan segenap kekuatanmu. Dan…kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri”.
Kata ‘segenap’ dan ‘seperti’ sengaja saya miringkan. Dari apa yang saya pikirkan, saya melihat semacam perbandingan antara mengasihi Allah dengan mengasihi sesama manusia. Bagi saya kata ‘segenap’ menunjukkan sebuah daya upaya maksimal yang layak dilakukan/perlu diupayakan oleh manusia untuk memahami dan melakukan apa yang dikehendaki Allah. Sekaligus menunjukkan betapa kita memiliki keterbatasan, dan kita harus mengakuinya. Saya jadi ingat apa yang diutarakan oleh Karen Armstrong dalam The Great Transformation dalam hal ini, bahwa kita harus melakukan semacam kenosis intelektual – menyadari bahwa kita tak tahu apa-apa dan pikiran kita ‘dikosongkan’ dari ide-ide yang sudah diterima yang sering menghambat kita untuk tercerahkan - dalam upaya mendengarkan (listening) dan melakukan (ortopraksi) kehendak Tuhan, termasuk dalam memahami umat beragama lainnya.
Dan kata ‘seperti’ menunjukkan ukuran: pemahaman, sikap, perlakuan, pemikiran, serta motif saat kita ‘mengasihi’ sesama, yang tak beda dengan bagaimana kita memperlakukan (baca: mengasihi) diri kita sendiri. Dalam kata ‘seperti’ itu pun mengandung makna kesetaraan. Bahwa kita berperilaku dan memperlakukan sesama kita dengan cara-cara layaknya kita disebut sebagai manusia. Dahsyatnya rumus kasih di atas juga mengandung makna memiliki nilai yang sama antara yang pertama dan yang kedua. Artinya, ketika kita hanya menganggap Tuhan ‘segala-galanya’ - hingga di dalam gereja/persekutuan pun kita seperti penumpang angkot yang tak saling kenal, saling sapa bahkan sekedar senyum, meski dalam kendaraan yang sama – lalu abai terhadap sesama, maka kasih itu timpang. Demikian juga sebaliknya. Hal ini juga dipertegas oleh Paulus dalam 1 Kor 13, bahwa meski kita memiliki bahasa malaikat sekalipun, tapi tanpa didasari kasih, maka semua itu percuma, nol besar. Namun memang kecenderungan yang terjadi adalah jauh panggang dari api, kadang kata ‘kasih’ itu disalahgunakan karena keterbatasan pemahaman kita. Singkatnya, kasih itu sendiri –bahkan oleh kita sebagai umat Kristiani – digunakan atau diletakkan bukan pada peruntukannya. Pada waktu dan situasi yang tidak kena mengena, serampangan, asal kasih.

Mengenai pandangan kita terhadap agama-agama pagan dan agama suku, saya jadi ingat apa yang diutarakan oleh Ompung Wilfred Cantwell Smith dalam “The Meaning and End of Religion”, bahwa bisa saja kita melihat orang atau umat tertentu ‘menyembah’ pohon atau bongkahan batu, lalu kita menganggap mereka menganut animisme dan dinamisme, padahal jangan-jangan kitalah yang tak memahami apa yang mereka hayati. Sebuah patung dari batu memang tak dapat melihat. Namun pembuatnya melihat sesuatu dengan sangat jelas; sesuatu yang melampau dunia ini. Dan kita, ketika memandang karya itu , jelas-jelas bebal jika sampai tak melihat apa-apa selain sekadar patungnya. Jadi saya ‘dicerahkan’ dari sisi ini. Sekaligus selubung ego keagamaan saya disingkapkan. Dulu, saya sempat berpikir begitu kerdil dan picik mengenai umat berbeda agama, bahkan mereka kita anggap non-theistik. Atas dasar ‘kasih’ atau ‘keselamatan’ atau ‘ memenangkan jiwa-jiwa’ atau ‘Amanat Agung’ - umumnya mengambil Mat 28: 19-20, saya pikir ‘konstitusi’-Nya justru pada hukum kasih pada Mar 12:30-31 – kita lantas terjebak dan tergiur untuk memberi label-label dan perlakuan terhadap sesama manusia yang justru bukan diinspirasikan oleh Roh Kudus atau Allah, namun oleh ego keagamaan (kalau bukan tradisi kumulatif keagamaan) kita dengan mindset: ‘saya / agama saya yang paling benar’.
Pengalaman hidup keberagamaan saya pribadi – setidaknya sampai saat ini - bersama saudara-saudara/keluarga yang berbeda agama, justru tidak membuat saya lantas menggebu-gebu untuk ‘memenangkan jiwa’ mereka, apalagi dengan cara-cara yang kekanak-kanakan. Keselamatan dalam pandangan saya bukan hanya tentang surga atau bersama-sama dengan Kristus nantinya. Keselamatan adalah tentang Tuhan dan ciptaan-Nya. Bukan tentang 'saya' tapi tentang 'kita'. Keselamatan justru layak kita wujudkan dalam keseharian kita, dalam bermasyarakat. Tidak dengan jargon Kristiani yang dilontarkan dan justru membuat sekat-sekat antar sesama manusia. Tidak juga dengan berondongan ayat-ayat kitab suci yang kita hafalkan untuk membelenggu serta menghakimi umat beragama lainnya. Bahkan dalam catatan sejarah, kekristenan sering muncul dalam wajah yang tak humanis, tanpa ampun, mengusung taurat-taurat baru, melakukan dehumanisasi. Mungkin inilah dampak jika agama mulai melembaga. Saya justru terus merasakan dan mengalami pembaharuan (termasuk koreksi) pemahaman keagamaan/keberimanan dalam momen-momen seperti Idul Fitri kemarin, atau dialog-dialog informal dengan teman yang berbeda agama. Dengan belajar memposisikan diri dan pemikiran kita terhadap mereka yang berbeda agama, semestinya pertumbuhan iman kita dibangun dan diperkaya, bahkan semakin diperteguh. Lagi-lagi ini adalah refleksi saya terhadap apa yang diucapkan Kristus mengenai: “Lakukanlah terlebih dahulu apa yang ingin orang lain lakukan terhadapmu”.


Saya punya pemikiran terbalik terhadap pertanyaan berikut:
“bagaimana kita memandang orang yang pindah agama dari kristen menjadi hindu misalnya?
sikap apa yang harus kita ambil?”

Bagaimana jika pertanyaan itu ‘dibalik’ menjadi begini:
“bagaimana mereka memandang orang yang pindah agama dari hindu (Islam, Buddha, dsb.) menjadi Kristen misalnya? sikap apa yang akan mereka ambil?”

Bagaimana reaksi dan pandangan kita sebaiknya? Mungkin masing-masing punya pendapat yang beragam. Sempat terpikir oleh saya bahwa kadang lebih elegan produsen dalam mengiklankan produknya, pilihan ada di tangan kita, yang satu rumah pun bisa dan bebas memilih (merek) apa yang cocok baginya, entah itu produk makanan, perawatan, dsb. Tak ada yang memaksa. Tinggal bagaimana kesediaan kita untuk belajar memahami produk yang kita konsumsi agar kita aman dan tanpa efek samping. Nah, mengapa keberagamaan kita justru sering memaksa? Dan celakanya, kita enggan untuk belajar bahkan mengenal mengenai pasang surutnya keberimanan kita sendiri. Maunya kita copy – paste.

Dalam pemikiran saya – silahkan dikoreksi – mengapa kita selalu merasa perlu mengkonversi orang lain dalam beragama/beriman? Tidakkah ada arti yang lebih luas dalam ‘konversi’ itu selain pindah agama? Tidakkah cukup kita menceritakan Kristus secara oral maupun behavioral? Belajar dari Mohandas Gandhi yang tetap setia pada ke-Hindu-annya, saya justru memaknai konversi itu dalam arti saling menguatkan, menumbuhkan dan bekerja sama dalam menghadapi tantangan-tantangan yang harus dijawab oleh agama-agama (tepatnya umat beragama), seperti kemiskinan, pengangguran, ketegangan sosial, ketidakadilan, dsb. Nah, jika Mohandas Gandhi saja mampu atau dimampukan untuk memahami bahkan mempraktekkan nilai-nilai ajaran Kristus, bagaimana dengan kita – yang kadang over acting karena sebutan anak-anak Raja?

Dan saya kembali mengutip Ompung Wilfred, bahwa menjadi religius ujung-ujungnya adalah tindakan personal.

Salam,
DW

Kesetiaan atau Arogansi Seorang Pengikut?

Kalau kita pernah atau mungkin memperhatikan bagaimana peran seorang satpam, bodyguard, fans artis, bobotoh Persib (Viking club), massa pendukung tokoh Pilkada, massa pendukung parpol, dan kaum konservatif – fundamentalis agama di TV, maka ada kesamaan yang bisa kita tarik benang merahnya. Ya, tentu saja ‘kesetiaan’.

Mereka ‘bekerja’ melakukan berbagai hal demi atasannya, demi sang tokoh, demi sang artis idolanya dan bahkan demi agamanya. Entah itu dilakukan secara positif maupun negatif. Pokoknya, demi apa yang dipujanya, mereka hanya memikirkan bagaimana agar status mereka sebagai ‘pengikut yang setia’ benar-benar terlihat dan teraminkan. Baik oleh sang atasan/idola maupun orang lain di luar dirinya, teman ataupun lawan.

Seorang pengikut, biasanya akan dengan setia pula mengikuti pola-pola atau aturan main sebuah komunitas, entah itu klub fans sepak bola, klub fans artis, maupun komunitas umat beragama. Mungkin ada benarnya istilah bahwa “burung-burung cenderung berkumpul dengan warna bulu yang sama”. Entah motif apapun atau ideologi apapun yang mendasari para pengikut ini hingga mereka begitu setianya sampai-sampai yakin masuk sorga dengan cara membunuh dirinya dan orang lain dengan bom. Manusia punya sisi keganasan yang lebih dahsyat dari binatang, bahkan kadang mengalahkan kelicikan setan.

Saya tidak sedang menyudutkan setan. Kalaupun setan ada di balik perilaku negatif para pengikut buta ini, maka kita perlu waspada terhadap apa yang kita maksudkan dengan kesetiaan sebagai pengikut itu sendiri. Dengan demikian setan pun berhasil memanfaatkan kesetiaan kita hingga tumbuh benih arogansi dan kemendakuan akan kebenaran. Dan akibatnya, mereka yang ‘berbeda’ dengan dirinya, halal untuk dibunuh serta ditumpahkan darahnya, demi sebuah label yaitu kesetiaan.

Dalam Alkitab, banyak sekali kisah-kisah tentang kesetiaan yang membahayakan dan menghancurkan. Yang sangat kita kenal di antaranya adalah Petrus yang dengan sigap menebaskan pedangnya terhadap seorang prajurit Romawi hingga telinga prajurit itu putus. Para murid yang berusaha menghalau anak-anak datang pada Yesus. Para ahli Taurat yang berusaha menyingkirkan Yesus karena Hukum Taurat. Dan masih banyak lagi.

Saya sempat membaca sebuah perikop dalam Lukas 9. Judulnya “Yesus dan orang Samaria”. Di sana dikisahkan tentang rencana Yesus pergi ke Yerusalem. Dan Yesus mengutus beberapa orang mendahului Yesus. Mereka, para utusan ini singgah di sebuah desa orang Samaria. Tapi orang-orang Samaria itu tak mau menerima Yesus. Lalu, dua orang murid Yesus, Yakobus dan Yohanes melihat hal itu, dan mereka berkata: “Tuhan, apakah Engkau mau supaya kami menyuruh api turun dari langit untuk membinasakan mereka?” Tapi Yesus justru menegor mereka. Dan mereka pergi ke desa yang lain.

Kalau kita perhatikan pertanyaan dari kedua murid Yesus ini, maka ada kekeliruan mereka dalam memahami misi Yesus. Mungkin selama ini tradisi Yahudi dengan Hukum Tauratnya mengenal dan memperkenalkan (kalau tidak kita sebut mendoktrinkan) Allah sebagai Allah yang mudah marah, Allah yang 'doyan perang', tegas dan tak segan-segan mengumbar hukuman pada manusia yang tak setia (dalam Perjanjian Lama). Dalam sebuah karya Karen Armstrong (The Great Transformation) , kita akan menemukan bahwa kekerasan untuk memusnahkan mereka yang tak menyembah Yahweh dilakukan sedemikian rupa, seperti yang dilakukan Musa, Yosia, dan Yosua. Namun, Karen juga mencatat bahwa pada Zaman Aksial ini, para nabi & orang bijak sangat gigih menciptakan jalan damai, mengusahakan anti peperangan, dan menghasilkan sebuah kaidah emas yang juga digunakan Yesus dalam khotbah-Nya. Hal ini juga yang melatarbelakangi pola pikir dan tindakan Yakobus maupun Yohanes dalam menghadapi orang-orang Samaria. Mereka menunjukkan kesetiaan pada Yesus, namun keliru menangkap maksud Sang Guru, sekaligus Tuhannya. Meski mereka bertanya dan tak jadi bertindak, namun secara implisit, kita bisa melihat betapa kearoganan seorang pengikut/murid itu membayangi kesetiaan. Saya menyebutnya ‘membayangi’ karena bayangan itu tak jelas, gelap, tak proporsional, tak tetap, mengikuti dan menyesatkan. Bahkan para murid ini pun punya semacam keinginan untuk membinasakan orang-orang Samaria atas nama Tuhan. Mereka tak ingin menggunakan tangan mereka untuk membakar desa tersebut, mereka bersembunyi di balik tangan Tuhan. Dan itulah yang terjadi di era ini. Agama dijadikan legitimasi penindasan terhadap sesama. Keberbedaan dianggap setan dan sesat. Alih-alih merangkul perbedaan untuk sebuah kehidupan yang konstruktif, kita malah memandang mereka yang berbeda sebagai calon penghuni neraka dan layak dibinasakan. Kita sering menyaksikan tipisnya perbedaan antara kesetiaan yang benar dengan arogansi semata para pengikut Tuhan dalam pluralitas keagamaan. Dalam film "Jesus Camp", kita disuguhi sebuah kenyataan yang bahwa kebutaan menjadi pengikut (Tuhan) tak pandang tempat dan situasi. Baik di Afganistan maupun di Amerika, peluang menjadi pengikut yang arogan dan picik adalah niscaya. Semoga kita tetap waspada dengan kesetiaan kita pada apa pun, juga pada agama maupun Tuhan.

Salam,
DW

BLAKANIS: Kejujuran Itu ‘Ngga' Naif


Bagaimana mungkin aku bisa mengatakan aku percaya Tuhan, beriman kepada Tuhan kalau aku tidak mulai dengan jujur? Ini yang dikatakan lelaki tua dengan daun telinga kecil dan lubang hidung gede yang menyebut dirinya Ki Blaka. Lelaki yang nyaris tanpa prestasi apa-apa, yang ingin jujur dalam segala hal. “Musuh utama kejujuran bukan kebohongan, melainkan kepura-puraan. Baik pura-pura jujur atau pura-pura bohong.”

Ketika para Blakanis, sebutan pengikut Ki Blaka, menyebar, mulai terjadi perubahan: anak-anak sekolah tak mau nyontek, koruptor menceritakan secara gamblang apa yang dijalaninya, sampai dengan pengalaman pribadi perempuan yang pernah diantre.

Ki Blaka yang tak bisa menahan pipis, dan suka pipis sembarangan, masih bisa bisa mengagumi payudara pengikutnya yang kaya, ayu, putih, jangkung ini terlihat berdoa dan berkata, “Saya tidak percaya doa, tapi saya melakukannya.”


Tiga Paragraf di atas saya kutip dari sampul belakang novel karya Arswendo Atmowiloto. Waktu saya membaca novel ini, awalnya biasa-biasa saja. Tapi saya terus tergelitik untuk menuntaskannya manakala kalimat di atas – bahwa musuh utama kejujuran bukan kebohongan, dst. – saya temukan kembali. Ya, menarik bahwa Ki Blaka – sang tokoh sentral dalam novel ini - mengucapkan kalimat yang demikian. Pura-pura jujur dan pura-pura bohong justru menjadi musuh utama dari kejujuran.
Memang tidak mudah bersikap jujur. Ada banyak alasan untuk tidak bersikap atau mengatakan yang jujur. Toh kita suka keliru membaca kejujuran. Kita malah merasa ogah dan gerah mendengar atau melihat kejujuran (atau ketelanjangan). Baik di sekitar kita maupun pada diri kita sendiri. Kejujuran kadang diartikan sebagai kedunguan atau kampungan atau ketidakcerdikan pada zaman ini. Kejujuran sering pula dianggap tidak ‘wise’, cenderung berdampak negatif bagi si pelaku kejujuran. Padahal, dalam novel Blakanis ini kita bisa melihat dengan telanjang, bahwa ternyata kita memang mungkin hanya enggan mengambil ‘risiko sementara’ dari sebuah kejujuran.
Kepura-puraan, adalah cikal-bakal sekaligus bom waktu dari ketidakjujuran. Dan jika kita mau menarik akar permasalahan di negeri ini pun salah satunya adalah banyaknya kepura-puraan. Kita semestinya bisa jujur tanpa menjadi naïf.

Salam,
DW

Kamis, 20 November 2008

GEREJA DI TENGAH BUDAYA SUAP?

“Semakin banyak birokrasi dan formulir yang harus diisi, semakin besar peluang bagi pejabat untuk meminta suap”. Begitu sepenggal kalimat yang tertulis dalam ‘Asian Future Shock’ (Michael Backman) tentang Indonesia. Indonesia? Negara kita yang katanya sudah 63 tahun merdeka ini? Benar! Dan benar pula apa yang terjadi di lapangan. Para konglomerat jahat masih dibiarkan berkeliaran, datang pada resepsi-resepsi pejabat tinggi negara karena mereka sanggup menyogok dan menyuap. Dunia pendidikan yang kita andalkan pun tak luput dari praktik ‘suap-suapan’. Zaman ini kualitas pendidikan mandek karena urusan siapa yang paling besar ‘menyumbang’ fulus. Lalu bagaimana dengan wilayah agama? Apa tetap steril? Jawabnya: TIDAK! Lho, faktanya, departemen agama di negeri ini adalah departemen terkorup. Ini kondisi ironis buat negeri yang jumlah rumah ibadahnya cukup banyak dan padat. Sejarah banyak bicara bahwa agama tak pelak saling berkelindan dalam hegemoni kekuasaan. Dalam praktik-praktik yang absurd dan memperihatinkan. Ada banyak pelajaran berharga yang harus kita tarik agar peristiwa-peristiwa tak sedap dalam bungkus agama tak lagi meruak atau menebarkan aroma busuknya. Tentu saja ini bukan pekerjaan mudah. Karena dengan jubah agama, masyarakat diperalat untuk kepentingan-kepentingan individu atau kelompok tertentu.


Suap-menyuap: Sebuah Budaya?

Konon, praktik suap-menyuap ini diperparah oleh latar belakang kultur masyarakat kita. Misalnya di Jawa Barat ini. Praktik pemberian upeti di zaman raja-raja masih terus di tularkan dalam kehidupan sosial kita, terutama dalam urusan-urusan birokrasi. Kita senantiasa ‘bangga’ memberikan semacam upeti kepada pejabat pemerintah. Akhirnya ini menjadi semacam kebiasaan, dilegitimasi sebagai sesuatu yang wajar dan lumrah dipraktikkan. Masyarakat pun latah, melazimkan praktik suap, seolah menjadi ritual yang harus dilakukan untuk kelancaran urusannya. Suap-menyuap tak ubahnya ‘sesaji modern’ yang disuguhkan agar yang bersangkutan tak disambangi oleh kesulitan-kesulitan birokrasi. Ya, inilah fakta yang tengah menjadi trend kehidupan bangsa kita. Inilah budaya bangsa kita yang muncul karena adanya ketidakjujuran. Budaya yang terus dipertahankan oleh para individu yang hidup dalam ketakutan. Ketakutan untuk mengakui keterbatasannya, kekurangannya.


Yang Sakral dan Yang Sekular?

Kecenderungan kita dalam kehidupan beragama adalah membuat dikotomi antara yang sakral (rohani) dan duniawi (sekular). Membedakan kita di gereja dengan di luar gereja. Jika di gereja kita seperti malaikat yang gagah nan lembut, namun di luar gereja kita justru bersikap laksana malaikat pencabut nyawa. Tak peduli apa dan bagaima sesama kita, main sikat, main sikut dan main sogok. Ada dualisme di sana. Ini jelas keliru! Pertama, kita harus menyadari bahwa kita masih hidup di dunia. Tuhan mengutus kita ke dalam dunia sebagai garam dan terang dunia. Bukan lagi dalam proses menjadi, melainkan sebagai.

Kedua, dalam hidup dan kehidupan kita: tubuh, jiwa dan roh kita tak bisa dipisah-pisah. Misalkan, kita tak mungkin membuat tubuh kita makan, sementara roh kita – dalam waktu yang bersamaan – pergi ke gereja. Karena makan adalah urusan tubuh jasmani dan ke gereja adalah urusan rohani. Tidak bisa demikian. Semuanya adalah satu kesatuan. Yang sakral tidak bisa berdiri sendiri tanpa yang sekular. Demikian juga sebaliknya. Dikotomi duniawi-rohani ini sering membuat kita menjadi naïf dalam beragama. Kita limbung oleh hal-hal rohani seakan kita telah di surga. Padahal, hal-hal rohani ini tak akan lengkap dan genap jika tak kita terapkan dalam ruang-ruang sosial yang sering kita beri label sekular (duniawi). Tentu saja bukan berarti pencampuradukan, melainkan kesadaran bahwa beragama saja tidak cukup, beriman saja tidak memadai untuk hidup di dunia. Dan sebaliknya, memiliki uang, materi atau apapun yang sifatnya kita pandang duniawi saja pun akan membuat kita timpang, cacat, buta, picik, dalam memandang sesama kita.



Gereja vs Budaya Suap?

Gereja memang idealnya tak turut larut dalam derasnya budaya suap. Juga tak boleh abai, merasa tenang dan “damai sejahtera” terhadap kebobrokan yang merambah ke hampir semua aspek kehidupan di negeri ini. Gereja yang tak acuh pada kondisi lingkungannya, apalagi bangsanya, adalah gereja yang layak di buang dan diinjak-injak orang. Tak berguna? Kalau begitu tutup saja. Mungkin kita (sebagai gereja) tak mempraktikkan ‘suap-suapan’ dengan uang. Namun , paraktik suap itu dilakukan dalam ibadah kita, dalam kerohanian kita. Misalkan, kita ‘menyuap’ Tuhan dengan persembahan kita. Kita berpikir bahwa dengan persembahan kita bisa ‘menghapus’ dosa-dosa kita, kejahatan kita di mata Tuhan maupun terhadap sesama kita. Ada saja orang Kristen yang mempraktikkan “money loundry” di gereja. Ini praktik suap yang lebih berbahaya dan merusak pertumbuhan iman kita. Jika kita berani menyuap Tuhan, bagaimana dengan terhadap sesamanya?

Tugas gereja adalah memperlengkapi jemaatnya untuk terjun di tengah-tengah hiruk-pikuk budaya yang korup. Tentu tidak untuk menjadi koruptor rohani atau penyuap rohani, melainkan mengikis budaya tersebut, mengganti dengan budaya kejujuran. Kita harus terus waspada terhadap budaya-budaya amoral yang lama namun berwajah baru. Gereja tak sekedar hanya berkata: TIDAK terhadap praktik suap. Sebagai gereja, kita harus menjalankan kehidupan ini dengan penuh kesadaran bahwa praktik suap dan korupsi tak berkenan ‘dipersembahkan’ kepada Tuhan, juga membunuh banyak orang – baik langsung maupun tak langsung. Apa yang akan kita perbuat jika Tuhan sudah berkata bahwa Dia tak berkenan dan benci pada persembahan-persembahan, perayaan-perayaan, dan ritual ibadat kita (Yes 1:14)? Kiranya Tuhan senantiasa membimbing dan menguatkan kita semua.


Kamis, 06 November 2008

MEMBUNGKUS TUHAN: Topeng Agama dalam Kekuasaan.

Pada mulanya adalah semangat,

Semangat yang berapi-api, menjilat-jilat kesana kemari. Menawan fakta bahwa dirinya tengah melebur dalam segerombolan – atau kelompok – manusia yang dicengkeram oleh idealisme masa lalu: kejayaan, kekuasaan, superioritas, banalitas, bercampur dengan duri kemunafikan.

Semangat itu hanya sebuah cermin gerutuan panjang tentang rasa inferior. Kekerdilan menangkap makna sesungguhnya pesan-pesan Ilahi. Seolah-olah ia telah sepenuhnya membungkus Tuhan dalam pikiran-pikirannya. Padahal, Yang Ilahi jelas-jelas melampaui kejayaan masa lalu impiannya - juga pikiran dan logika, yang justru saat ini (present) Tuhan tengah mendesain kejayaan kekinian. Mungkin, sebuah obsesi yang juga bisa menguasai gerak laku kita dalam kehidupan adalah keinginan yang disebut sebagai “Para Pencari Tuhan”, padahal kita tak punya kuasa untuk mengklaim sebagai yang telah mencari dan memilih Dia. Bukankah Tuhan pernah mengungkap rahasiaNya pada logika pikiran kita: “Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Aku yang memilih kamu”? Yang dicari pun semestinya bukan Tuhan itu sendiri, Ia Maha Ada, namun kebenaranNya.

Paragraf di atas adalah hasil perenungan saya setelah tiga hari di pertengahan bulan September 2008 yang lalu usai membaca tulisan – atau pengakuan – Ed Husain dalam buku “Matinya Semangat Jihad” (diterbitkan oleh Alvabet), saya dibuat ternganga. Kalau ada padanan kata dari eureka! yang tepat buat menggambarkan keterngangaan saya, mungkin itu yang lebih tepat. Ed Husain, seorang aktivis Hizbut Tahrir di Inggris, rupanya mengalami semacam metamorfosa spiritualitas. Nyaris seperti Saulus – si pembenci dan pembantai pengikut Yesus Kristus – yang dijungkirbalikan arah semangatnya, dan kita kenal dengan nama baru, Paulus. Husain mengalami penjungkirbalikan arah semangatnya dari seorang aktifis Islamis* (keras, tegar tengkuk, bebal) menjadi Muslim yang menolak Islam dijadikan topeng dalam meraih kekuasaan (politisasi agama).

Jika disimak lebih detail, dalam perjalanan hidupnya, Ed Husain diwarnai oleh nafas kekristenan, yang sebelumnya telah ia gumulkan dalam masa-masa pencarian dirinya.

Pesan dari tulsian Ed Husain cukup jelas:

Agar kita tak tenggelam dalam idealisme masa lalu, dan kita buta pada kekinian dan masa depan, bahkan meski itu atas nama agama dan Tuhan.

*) Islamis: Sebutan bagi para penganut Islam garis keras.

Salam,

Dommy Waas

KEJAHATAN, KEBAIKAN dan KEBENARAN

Tulisan ini lahir dari sebuah percakapan tanggal 28 Okt 2008.

“Pak, kenapa sih ada orang jahat?” pertanyaan itu – entah iseng atau luapan kegelisahan – meluncur ringan dari bibir seorang mahasiswi yang kini tengah magang di tempat saya bekerja.

Ya, di tengah kesibukan, mendapat pertanyaan seperti itu justru membuat saya ‘tersudut’. Tersudut karena pertanyaan itu buat saya bukan sekedar pertanyaan, tapi memposisikan diri ‘bertengger’ di sudut-sudut pertanyaan lainnya – menyusul pertanyaan tadi.

Belum juga saya mencerna pertanyaan tersebut, Yovita – mahasiswi berjilbab ini – menjawab sendiri: “Karena ada orang baik ya, Pak?!”

Naluri saya dengan singkat menanggapi pertanyaan dan pernyataannya dengan sebuah pertanyaan – yang saya anggap berimbang: “Mengapa kita harus baik?”

Kontan Yovita bereaksi: “Lho, bukannya kita memang harus begitu?”

“Kata siapa?” Tanya saya lagi.

Kita kan diajarkan begitu?” tangkis Yovita.

“Apa semua perbuatan yang baik itu sudah pasti benar? Apa kita yakin bahwa perbuatan baik itu baik juga untuk orang lain? Tak merugikan orang lain? Ya, apakah perbuatan baik itu benar-benar kita lakukan untuk kebaikan bagi sesame manusia, atau untuk kepentingan diri? Hanya supaya masuk sorga misalnya?” ” berondong saya spontan.

“ Kan semua orang ingin masuk sorga, Pak?” jawab Yovita.

“Itu kan yang kita tafsirkan dari agama-agama yang kita yakini? Apa ngga mungkin ada orang yang ngga mau masuk sorga?” timpal saya.

“Maksudnya?” selidik Yovita.

“Ya, tepatnya tafsiran orang lain sebelum kita. Apa kita juga akan tetap berbuat baik jika sorga itu tidak ada?” jawab saya.

Bagi saya orang yang berbuat baik tidak selalu dilatari motivasi yang benar dan orang yang berbuat jahat/salah tidak selalu motivanya juga jahat/salah.

Yovita terdiam. Mungkin ia sedikit shock dengan pertanyaan-pertanya an yang lahir dari pertanyaan awal tadi. Dan saya sendiri baru ‘ngeh’ setelah tiga hari lamanya pertanyaan dan pernyataan-pernyata an saya itu mengiang di dalam pikiran saya. Hingga saya menuliskannya dalam secarik kertas pada Minggu malam, 2 Nop 2008.

Pertanyaan itu: “Mengapa ada orang jahat?”, mengusik nalar saya untuk melihat ke dalam diri saya. Menjejerkan berbagai pertanyaan lain yang muncul selain apa yang telah saya nyatakan di atas:

“Apa motivasi saya berbuat baik?”

“Untuk siapa saya berbuat baik?”

“Benarkah perbuatan baik saya?”

“Apakah kebaikan saya akan memicu/melahirkan kebaikan lainnya atau justru kejahatan?”

“Bukankah kebaikan itu hanyalah semacam cangkang dari kebenaran, bukan kebenaran itu sendiri?”

“Tidakkah dari kejahatan pun ada terselip kebenaran?”

Dan terakhir….

“Jika ada kejahatan yang muncul, tidakkah kita selalu terburu-buru memvonisnya karena kita selalu menganggap diri kita baik dan orang lain jahat?”

Tidakkah kita perlu bertanya: “Kebaikan macam apa yang kita semai sehingga orang lain memetik buah kejahatan?!”

Saya jadi ingat cerita Umberto Eco dalam “In The Name of The Rose”. Bahwa kejahatan bisa muncul dari kesalehan. Dan faktanya, begitu banyak kesalehan-kesalehan yang membiakkan, melahirkan bahkan memelihara kejahatan.

Benar apa kata Paulus: “Semua yang baik, ……pikirkanlah semuanya itu!”

Dan benar pula apa yang diselidiki Yesus: “Mengapa kamu bilang Aku baik?”


Bdg, 2 Nop 2008.

Tabik,

Dommy Waas

BILANGAN FU: SPIRITULITAS KRITIK BAGI PARA PEMUJA MONOTEISME

BILANGAN FU:
SPIRITULITAS KRITIK BAGI PARA PEMUJA MONOTEISME


9 OKTOBER 2008 pukul 4:07 WIB. Akhirnya saya khatam juga setelah berlarut-
Terbitkan Entri
larut, di sela-sela himpitan prioritas aktifitas, saya menutup halaman akhir novel karya Ayu Utami: Bilangan Fu. Melelahkan sekaligus memuaskan :). Waktu pertama kali saya melihat judulnya, pikiran saya sempat 'mampir' pada Supernova Dewi Lestari. Tapi akhirnya, warna Supernova itu pun luntur dengan sajian alur cerita Ayu Utami. Ceritanya bisa dibilang tetap ada kisah cintanya. Namun, kisah cinta yang ini memang agak unik (kalau tidak kita sebut 'aneh') dan misteri. Ketiganya adalah para pemanjat tebing/gunung. Tapi yang paling mendominasi jelas bukan kisah cinta antara Yuda, Marja dan Parang Jati. Oya, Yuda dalam novel ini adalah seorang yang modern, kurang punya etika bertutur (kalau bodoh ya bodoh saja), ngga suka hal-hal mistis meski percaya Tuhan. Yuda, sebelum bertemu Parang Jati, bersama timnya, selalu melakukan 'pemanjatan kotor' yang justru merusak alam dan hanya melihat pemanjatan sebagai 'penaklukan' dan unjuk kekuatan semata. Marja, adalah perempuan kekasih Yuda, yang dalam perjalanannya entah bagaimana juga terikat kisah cinta dengan Parang Jati. Marja agak aleman tapi juga memiliki kekuatan yang tak dimiliki kaum pria. Sedangkan Parang Jati adalah seorang pemuda berjari tangan 12 (yang sering kita pandang 'tidak normal/ lumrah'), yang sangat menghormati keberagaman. Dia, dalam novel ini, banyak mengutip kata-kata Yesus dalam konteks Kotbah Di Bukit. Dia mengerti benar bahwa agama-agama lokal (kejawen dsb.) justru memiliki nilai-nilai yang memelihara alam ketimbang klaim kaum monoteis yang dogmatik dan cenderung abai pada lingkungan hidup. Parang Jati tidak membuat agama baru namun ia, bersama Yuda dan Marja, menggagas sebuah ide yang disebut sebagai "laku kritik" atau spiritualitas kritik, atau dia sebut Neo-Kejawan. Parang Jati-lah yang memperkenalkan Yuda pada praktik 'pemanjatan bersih', yang memiliki makna sebaliknya dari 'pemanjatan kotor'. Pada puncaknya ia harus berseberang dengan adik kandungnya sendiri, Kupukupu alias Farisi yang memuja monoteisme dengan salah kaprah, fanatisme. Hingga akhirnya Parang Jati harus kehilangan nyawanya, karena pandangannya tentang Tuhan yang satu tak sejalan dengan Farisi. Yang membuat saya tersenyum geli manakala membayangkan si Farisi beserta laskar para pengikutnya (sepertinya identik dengan laskar FPI), berkostum persilangan antara harajuku Samurai X dengan Pangeran Diponegoro. Model baru dalam fashion nih. Dalam novel ini juga kita akan belajar bahwa kebenaran adalah future tense, sedangkan kebaikan adalah saat ini. Tak satu manusia pun layak mengklaim kebenaran yang mutlak dan misteri itu. Tuhan yang kita kenal dalam angka satu itu ternyata telah kehilangan kemisteriusanNya, kemahaanNya, karena manusia telah membatasinya dalam angka satu. Angka nol -dalam novel ini- justru diangkat sebagai angka yang lebih dekat dengan sifat ketakberhinggaan Tuhan itu sendiri. Bahwa keinginan-keinginan manusia pemuja monoteisme itu untuk memutlakan kebenaran-kebenaran dengan cara 'mempersetankan' dan atau 'mempersesatkan' pihak yang tak sejalan justru adalah sebuah ekspresi pemerkosaan spiritualitas dalam birahi menggapai kekuasaan dan berkuasa atas yang lain. Hmmm...kalau saja novel Ayu Utami yang juga ada bau-bau politisnya ini diangkat ke layar lebar, boleh juga. Novel ini kontekstual dengan kondisi bangsa kita saat ini. Akhirnya...sebuah pertanyaan pun muncul: "Apakah dengan Tuhan Yang Esa itu, saya masih bisa menggunakan sikap kritik untuk menyangga (menanggung) kebenaran atau justru mengambil sikap taken for granted untuk menguasai, memperkosa dan memutlakkan kebenaran - yang misterius - itu?"

Salam,
Dommy Waas

Kamis, 06 Maret 2008

Undangan Seminar

Pengikut